Sebelum menjalankan peran sebagai konselor, psikolog pertama-tama perlu menjadi ruang tunggu yang nyaman dan aman bagi para klien.
Merawat Emosi sebagai Pribadi Dewasa
Ketika seorang mengalami peristiwa yang memicu kondisi emosional tertentu, ia bisa saja meledak saat emosinya kalut dan memuncak. Setidaknya ada 3 pilihan sikap yang bisa dilakukan terhadap orang tersebut.
Sesekali, Kita Perlu Mementingkan Diri Sendiri
Beberapa pribadi dengan kecenderungan gaya komunikasi pasif-agresif memiliki tantangan ketika menghadapi konflik, terutama konflik dengan orang lain. Ia kesulitan mengakui kemarahannya.
Itu Bukan Kesalahanmu
Barangkali kalimat ini yang ingin kita dengar. Kalimat empatik yang mampu meluruhkan emosi yang membelit. Berada dalam energi rasa malu dan rasa bersalah sangatlah memberatkan.
Katakan Dengan ‘Saya’
Kita tidak terbiasa memeriksa dan mengakui perasaan diri. Lebih mudah mengatakan “kamu itu …” daripada “saya …”
Menolong Ibu
“Saya lelah, dan tidak perlu lagi penghakiman” adalah suara yang tidak sempat terucapkan dan tidak juga ramai terdengar di permukaan.
Keluar dari Penjara Diri
Mode bertahannya selama ini adalah imajinasinya. Di kamar yang tidak terlalu besar itu, ia menemukan tempat terluasnya. Pikirannya bisa menjadikannya diri yang baru, lewat satu kata “seandainya”.
Menjinakkan “Monster”
Manakala rasa aman itu terusik atau tercerabut, seseorang bisa berubah menjadi monster yang mengamuk.
Filsafat Waktu
Tergantung sama apa yang kita pikirin, apa yang kita mauin dan yang gak kita mauin, juga dengan apa yang kita persiapin di antaranya. Waktu subjektif itu ada di dalam kepala kita.
Resolusi, Urgensi, dan Intensi
Kita kembali bekerja, kembali ke dalam rutinitas, kembali berjalan dalam sistem. Sambil melakukan apa yang perlu dilakukan, tak jarang kita juga memikirkan apa yang ingin dilakukan. Karena kenyataannya, kita bergelut dengan realita yang kadang tidak sesuai dengan ekspektasi.
