
Bayangkan kamu datang dengan pertanyaan, “Mungkinkah aku tetap bisa merasa berharga, dengan kondisi tanpa apapun?”
Seseorang akan bisa menjawab dengan banyak versi pengetahuannya. Kemudian menceramahimu, atau menyemangatimu atau memotivasi untuk hidup yang lebih baik, atau mengecilkanmu karena pertanyaan tersebut. Intinya, orang lain merasa paling tahu tentang perasaan itu dan menganggap kamu tidak mengetahuinya sehingga ia mengguruimu dengan cara yang mungkin saja tidak bisa kamu terima.
Kamu bisa paham… tetapi barangkali tidak dipahami.
Bukan, bukan itu rasanya dipahami.
*
Bayangkan kamu datang dengan pertanyaan, “Mungkinkah aku tetap bisa merasa berharga, dengan kondisi tanpa apapun?”
Seseorang kemudian terdiam bersamamu untuk sesaat, berusaha mencerna pertanyaan itu. Barangkali ia tahu rasanya berharga, tetapi mengacu pada konten pertanyaannya, seperti ada sesuatu yang bertentangan tetapi orang itu juga belum tahu apa persisnya. Lalu, ia berkata, “Kita cek, yuk, apa arti kata ‘berharga’.”
Lalu orang itu membacakan hasil risetnya, dan kamu menuliskannya di atas kertas, mencoret-coretkan skemamu sendiri. Kesimpulan bersama yang diperoleh adalah tidak mungkin kita bisa merasa berharga dalam kondisi tanpa. Berharga itu sesuatu yang ada, yang memiliki sesuatu nilai/manfaat/guna, suatu kepunyaan.
Lalu orang itu mengajakmu untuk menggali lebih dalam, apa yang ada, apa yang kamu miliki, apa yang kamu punyai, pada saat ini di momen ini. Lalu kamu menuliskan dari keadaan sekarang: pikiran yang berlarian, kemampuan otot untuk menulis, ruang meski sesaat, teman, dan dialog.
Lalu orang itu bercerita sedikit tentang temuannya, menanyakan pandanganmu, dan terakhir menanyakan posisimu dari hasil coret-coretanmu. Kamu mendengarkan, melihat lagi ke catatan skemamu, dan berpikir. Kamu memutuskan: sedang berada di mode pasif, sedang tenggelam di ruang aman (alam pikiran dan kesempatan) yang berharga ini.
Perlahan kemudian, perasaan berharga muncul sendiri dari dalam dirimu. Kamu tidak lagi merasa terlalu terpuruk. Kamu merasa baik saja dalam kondisi saat ini – sekalipun kondisimu tidak begitu baik. Kamu merasa bisa menerima dan berdamai dengan kondisimu, yang sesaat ini. Dan tidak lama kemudian, kamu merasa lebih siap untuk beranjak dan beralih dari kondisi terpurukmu.
Mungkin saja kamu tidak benar-benar paham dengan apa yang kamu alami… tetapi kamu merasa dipahami.
Itulah rasanya dipahami.
Kamu bersama orang yang mau menghadapi kebingunganmu, kesenduanmu, kerumitanmu – bersama-sama. Ingatlah bahwa seseorang yang datang dengan pertanyaan tidak selalu membutuhkan jawaban.