
“Katanya kalau anak tidak mau makan, ‘kan jangan dipaksa, ya, daripada saya yang stres maksain dia makan.”
“Tidak apa-apa anak saya masuk SD meski belum matang usianya, saya siap support apapun konsekuensi terburuknya.”
“Dia nggak bisa lepas dari gadget. Bisa-bisa dia ngamuk kalau gadgetnya diambil.”
“Anak saya nggak suka olahraga. Bukan tipe dia ikut les atau lomba olahraga.”
Dan masih banyak lagi sikap-sikap sepihak orang tua terhadap anak.
Kok, sepihak?
Mari berputar posisi untuk berada di pihak anak.
Sudah hampir 1,5 tahun usianya, dan anak ini menolak makan makanan pengganti ASI. Asupan nutrisinya hanya dari susu formula. Ia hanya mau minum susu. Ibunya tidak tertarik mencari cara-cara membujuk anaknya makan, selain mencari tempat-tempat penitipan anak.
Anak kedua, usianya baru awal 6 tahun, masih ingin bermain berkeliling berlarian. Hasil asesmen psikologis menyatakan ia belum siap mengikuti pendidikan SD, tetapi orang tuanya menilai usia 7 tahun untuk masuk SD tergolong ketuaan.
Anak ketiga, usianya 11 tahun, rutin bermain gawai setiap hari. Tugas-tugas tertunda, tidak berkonsentrasi di sekolah, tidak suka belajar. Guru menegurnya. Orang tua berharap sekolah menangani anaknya.
Anak keempat, usianya 10 tahun, kurang memiliki daya tahan. Posturnya belum stabil, duduk lama ia mudah pegal. Hampir setiap sore waktunya habis diisi jadwal les akademis untuk mengejar prestasi. Ia takut orang tuanya marah jika nilainya turun.
Kembali ke sisi orang tua.
Bagaimana orang tua bisa sampai pada ketetapan-keputusan sepihak? Pasti semua memiliki dasar dan alasannya sendiri. Mungkin alasannya sesuatu yang lebih penting dibandingkan kebutuhan aktual anak-anak ini. Mungkin ada alasan dan kondisi yang terpaksa membuat mereka mengesampingkan dulu kebutuhan anak. Atau mungkin juga orang tua belum sempat melihat dari sisi kebutuhan anak, karena pandangannya masih tertuju kepada dirinya. Semua alasan tidak bisa dihakimi.
Pemerhati anak, baik itu psikolog, guru, terapis, dokter, maupun yang lainnya, berkewajiban menyuarakan kebutuhan anak dan memberikan pemahaman kepada orang tua. Lebih dari itu, tidak berhak dan tidak bisa mengubah sikap orang tua sampai orang tua siap membuka dirinya.
Semoga ketetapan sikap orang tua masih memiliki celah untuk dibuka, untuk mau melihat dan berpihak pada kebutuhan anaknya.