
Beberapa pribadi dengan kecenderungan gaya komunikasi pasif-agresif memiliki tantangan ketika menghadapi konflik, terutama konflik dengan orang lain. Ia kesulitan mengakui kemarahannya, menggunakan eskpresi wajah yang tidak sesuai dengan perasaannya, dan bahkan menyangkal bila terjadi suatu masalah. Di depan tampak manis dan penuh penerimaan, sementara di belakangnya kelimpungan dan kebingungan menghadapi ketidaksesuaian. Apabila gaya komunikasi ini “terpelihara” tanpa sadar, hal ini menjadi sebuah kebiasaan yang merugikan dirinya sendiri. Tidak jarang mereka gagal untuk menyadari kebutuhan dirinya.
Adalah sebuah kemewahan ketika kita bisa mengetahui apa kebutuhan kita, apa yang penting bagi diri kita, apa yang kita yakini pada satu saat, apa yang kita pikirkan pada momen tertentu, dan apa yang kita rasakan pada waktu tersebut. Dengan begitu, kita bisa dikatakan sejahtera secara mental: tidak terpenjara dan tidak tertekan; bisa cukup bebas dengan tetap bertanggung jawab.
Pribadi dengan kecenderungan gaya komunikasi pasif-agresif perlu belajar untuk mengungkapkan dirinya secara jujur. Sahabat, pasangan, keluarga, atau konselor, dapat menjadi tempat aman bagi yang bersangkutan. Hanya saja, terkadang, masalahnya bukanlah pada keberadaan dukungan emosional tersebut, melainkan pemblokiran emosi dari dirinya sendiri. Merasa marah pada dunia tetapi merasa tidak berhak. Merasa wajib memenangkan diri tetapi tidak mampu. Lama-kelamaan, ia menjadi pribadi yang menyabotase dirinya sendiri.
Adakah yang bisa dilakukan? 1) Cobalah untuk terhubung dengan perasaan yang sejati. Kemudian 2) cobalah untuk ungkapkan dan sampaikan secara lebih terbuka.
Dalam terhubung dengan perasaan, kita perlu penyaringan yang tepat. Premis yang perlu diingat adalah bahwa setiap emosi adalah netral, tidak baik dan tidak buruk. Emosi hanya hadir untuk dikenali dan disadari. Ada alasan mengapa kita merasakan emosi tertentu. Selami itu – termasuk ketika kita membutuhkan waktu lebih untuk menjadi melankolis. Perasaanmu, pikiranmu, valid adanya.
Dalam mengungkapkan emosi, sampaikan dengan “Pernyataan Saya”. Hal ini tidak menegasikan orang lain, dan tetap berpijak pada ketetapan diri sendiri. Orang lain hadir di dunia ini untuk juga menerima konsekuensi dari menjalin relasi.
Kita perlu terus melatih cara komunikasi ini dengan disiplin. Gaya komunikasi asertif.
Ketika emosi kita disadari dan diterima, ia tidak membesar-besarkan dirinya. Ketika kita semakin terampil menyatakan “saya”, menang-kalah bukan lagi menjadi persoalan. Pribadi “saya” memperoleh terang tentang apa yang mau kita sampaikan, dan lawan bicara menjadi tidak salah paham dengan perilaku yang kita tampilkan. Dengan begitu, terciptalah pemahaman yang lebih baik.