“Saya lelah, dan tidak perlu lagi penghakiman” adalah suara yang tidak sempat terucapkan dan tidak juga ramai terdengar di permukaan.

Ketika seorang anak tampil bermasalah, melakukan perilaku-perilaku yang kurang sesuai dengan norma sosial, kita tidak melihat hanya pada anak tersebut, tetapi juga melirik ke arah siapa dan bagaimana orang tuanya.

  • Anak SD yang usil di kelas adalah anak pintar. Ia dengan mudah menyelesaikan soal-soal dari guru. Kalau sudah selesai duluan, ia akan berkeliling membantu teman menjawab, atau menyambangi seorang temannya dan menertawai. Ia dianggap nakal, perilakunya dilaporkan kepada orang tuanya.
  • Anak usia dini yang berteriak dan menangis tiada henti ketika ada hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. Di penitipan anak, ketika orang tuanya mengantarkan sepanjang hari, ia bersikap baik. Di hari lain yang diantar hanya oleh pengasuh, ia berulah dan menjadi anak yang bisa amat mengganggu. Ia dianggap manipulatif, perilakunya disampaikan kepada orang tuanya.
  • Anak balita yang berkeras dengan keinginannya, terkadang bisa tantrum selama 1 jam lebih di rumah, misalnya tidak mau mandi dulu, belum mau tidur, masih mau main, tidak mau duduk di kursi makan, tidak mau ditinggal ayah/ibu, dsb. Lansia yang tinggal di satu rumah tersebut merasa terganggu. Ia dianggap tidak bisa ditenangkan, perilakunya disampaikan kepada orang tuanya.
  • Anak SD yang merasa insecure dengan penilaian dari teman-teman sekelasnya adalah pribadi yang kooperatif pada dasarnya. Ia yang masih sulit mengelola emosinya saat terusik, memilih untuk menjauh dari kegiatan. Ia dianggap anak yang sulit diatur, perilakunya disampaikan guru kepada orang tuanya. 

Bagaimana perasaan seorang Ibu ketika mengetahui laporan-laporan tersebut?

Sebagian besar merasa kacau dan malu.

Malu menjadi emosi pertama yang muncul sebagai respon dari menutupi perilaku yang bisa menurunkan penilaian diri. Kacau adalah percampuran emosi yang dirasakan kemudian, bisa merasa marah pada anak, bersalah pada diri, dan lain-lain.

Tentu saja, bukan hal yang mudah memberi jarak pada diri. “Anak bermasalah, orang tua bermasalah” adalah keyakinan yang tentu saja masih menjadi momok bagi orang tua. Siapa yang mau dibilang bermasalah? Keyakinan ini lebih banyak disikapi secara emosional dan memang membutuhkan waktu dan usaha untuk menelaahnya secara rasional. Salah satunya karena kata “masalah” punya konotasi yang negatif. Tidak jarang, terkadang, kita cenderung menghindari masalah. Dan tentu saja, wajar, ketika kita menolak mengaku bermasalah.

Padahal, adakah hidup yang tidak bermasalah? Bukankah hidup hanya menawarkan masalah?

Masalah berarti sesuatu yang perlu diselesaikan. Bukankah hadirnya masalah adalah pertanda baik bahwa kita sudah memulai sesuatu dan waktu yang kita punya akan diarahkan untuk menuntaskannya? Ada masalah berarti ada sesuatu yang telah dimulai.

  • Anak mengamuk ketika ada hal yang tidak sesuai dengan keinginannya berarti kita sudah mulai memberikan kebebasan pada anak untuk memilih dan anak mulai mengaktifkan kekuatannya. Tarik-menarik untuk penentuan batas adalah hal yang perlu terjadi. Power dan boundaries menjadi istilah asing yang perlu muncul dan dikonkritkan. Di antara itu, marah adalah hal yang wajar terjadi, terutama pada orang tua dan juga anak. Anak seakan melewati batas orang tua, dan orang tua seakan mengusik batas aman anak.
  • Anak bermasalah di lingkungan penitipan anak berarti kita sudah memulai melepas anak keluar dari zona amannya di rumah dan anak mulai mengaktifkan radar kewaspadaannya saat keluar dari zona amannya. Takut adalah hal yang tentu saja menyertai.
  • Anak mengusili temannya di kelas berarti kita sudah menitipkan anak di konteks belajar yang tidak hanya akademis tetapi juga sosial, dan anak mulai mengembangkan keterampilan sosialnya saat menghadapi ragam bentuk respon orang. Bingung adalah hal yang wajar muncul.

Langkah berikutnya adalah perlu dihadapi hingga selesai. Pertanyaannya ada dua. Satu, adakah kriteria dari selesai? Tidak. Kedua, adakah yang bisa dilakukan? Ada, secara bertahap.

Mari kita selesaikan. Satu per satu. Apakah kita sudah bisa menyelesaikan akar permasalahannya? Atau kita perlu menyisir dulu faktor-faktor yang terkait?

Masalah apa yang sedang dihadapi? Apakah salah satu atau beberapa poin berikut ini?

  • Ketidakcocokan penerapan aturan antara saya dengan pasangan/mertua/orang tua?
  • Kesulitan mengekspresikan emosi ketika ada orang lain di sekitar?
  • Perasaan bersalah ketika marah, mudah tidak enakan, tidak ajeg dengan perasaan yang dirasakan?
  • Bias dan penilaian diri yang mengatakan bahwa saya adalah pribadi yang gagal dan buruk?
  • Sulit menyampaikan apa yang dirasakan dan dipikirkan?
  • Terlalu memikirkan penilaian orang lain?
  • Kesulitan meminta bantuan untuk berbagi peran?
  • Kesulitan mengakses emosi yang sedang dirasakan?
  • Keterbatasan waktu untuk menyortir banyak hal secara sekaligus?
  • Kapasitas energi yang menipis dan belum tahu caranya untuk mengisi daya?
  • Terlalu banyak hal yang dicemaskan tentang masa depan?

Dan mungkin lebih banyak lagi temuan yang dialami.

Kita telah memulai perjalanan kita menjadi orang tua. Masalah-masalah pola asuh adalah hal wajar yang akan terjadi, entah itu memantulkan permasalahan pribadi atau menghadirkan permasalahan murni dari kondisi anak.

Sadar, adalah langkah pertama untuk menolong diri. Bersamaan dengan itu, kita sedang menolong anak kita. Lebih lanjut, kesadaran ini akan memampukan kita membantu kesulitan dan keterbatasan yang dialami oleh anak.

Bila membutuhkan penyaluran untuk melepas kekalutan, bolpoin dan kertas adalah tongkat sihirnya. Waktu adalah hal yang perlu diciptakan.

Bila membutuhkan ruang aman untuk sekadar curhat, pasangan/sahabat/keluarga yang dipercaya ada di sekitar kita.

Bila membutuhkan bantuan profesional untuk menguraikan, silakan hubungi /kunjungi profesional yang terjangkau.