
Seorang Ibu 3 anak datang untuk membicarakan perihal anak bungsunya. Ia ceritakan semua, kecuali satu hal: tentang kepergian anak pertamanya.
Setiap ibu membawa luka dan dukanya. Luka dan duka ini yang kemudian mewarnai bagaimana pengasuhan kepada 2 anak kembarnya. To protect at any all costs. Ia tidak sanggup jika terjadi sesuatu lagi pada anaknya. Ia jauhi semua marabahaya dari anaknya. Ia hadapi semua potensi masalah bagi anaknya. Ia lakukan semuanya – yang tidak ia sadari, ia tanpa sengaja melumpuhkan kebisaan anaknya.
Ia lelah, ia tidak punya waktu. Ia mengeluh, tetapi bersamaan dengan itu, ia berpegangan pada keluhan itu. Apabila ia punya waktu, bisa jadi ia tidak tahu apa yang akan waktu lakukan bersamanya. Bisa jadi semua kerepotan itu memang ia ciptakan karena ia membutuhkannya, sebagaimana anak-anak membutuhkan dirinya. Ia lebih baik kehilangan dirinya daripada kehilangan anaknya. Tidak. Tidak lagi.
Namun ternyata waktu bekerja dengan caranya sendiri. Dengan lembut waktu merangkul pundak dan mengusap punggungnya, seolah berkata, “Tidak apa kita diam sejenak. Aku menemukanmu” Untuk pertama kalinya, di ruang yang tersedia, dengan rela hati, ia membiarkan air mata menggenang, “Ternyata saya berduka.”
Duka, yang dipanggil namanya, tersenyum dengan sama lembutnya dengan waktu. Menatapnya dengan penuh kasih sayang. Kemudian ia pamit dan samar-samar menghilang lagi.
Entah kapan, ia akan berjumpa lagi dengan dukanya yang satu itu. Tidak apa, tidak harus segera, tidak harus cepat-cepat, meski kadang ada dorongan ingin berjumpa lagi. Satu hal yang pasti, hari itu, untuk pertama kalinya ia telah melihat wujud kedukaannya. Dan itu cukup untuk membuatnya sedikit berjarak dalam memberikan perlindungan kepada putra-putranya.