Di suatu sore yang cerah, sebuah mobil tiba di depan pagar. Ketika mobil berhenti, terdengar suara benturan yang cukup keras. Saat didekati, tampak seorang anak laki-laki berusia 9 tahun yang sedang meluapkan emosinya, entah apa yang ia rasakan. Ia memukul-mukulkan tangannya ke jendela mobil, terkadang juga membenturkan kepalanya ke kaca jendela. Ia juga berteriak dan menangis. Hal ini berlangsung selama kurang lebih 10 menit. Setelah anak pada akhirnya turun dengan terpaksa, tampak ia masih menyimpan perasaan yang berat. Dibilang terpaksa karena memang alasan yang dilontarkan orang tuanya adalah “masih ada urusan sehingga ia harus cepat turun dari mobil.” Mobil itu mulai berjalan dengan pelan berhati-hati agar tidak menyerempet mobil lain yang terparkir. Rupanya anak itu mengejarnya. Ia masih belum mau ditinggal. Terjadi percakapan antara anak dengan orang tua yang ada di dalam mobil, entah apa. Setelah itu, mobil kembali berjalan, dengan anak yang masih terus mengikutinya. Sampai pada akhirnya, orang tua itu menyerah dan mengajaknya naik ke mobil.

Kurang lebih, drama itu terjadi selama 20 menit.

Sudah menjadi kebiasaan selama ini, manakala anak itu sedang tidak dalam kondisi suasana hati yang baik, maka ia tidak akan mau mengikuti kegiatan. Dan orang tua membolehkannya tanpa sadar.

Namun, hari itu, barangkali adalah momen tipis yang bisa membantu mematahkan lingkaran “setan” yang selama ini terjadi. Alih-alih membiarkan anak dan orang tua itu pergi dan tidak melanjutkan sesi, psikolog berkeras untuk menahan kepergian mereka. Dengan niat/intensi untuk memberikan skema pada orang tua itu bahwa “saya yang bisa mengontrol suasana hati saya, bukan suasana hati yang mengontrol saya.” Tentu saja, sebelum anak terampil mengembangkan kontrol dalam dirinya, anak membutuhkan kontrol dari pihak luar dirinya. Pada kasus ini, adalah orang tuanya.

Ada benarnya, bahwa ada kalanya anak yang tantrum dibiarkan saja sampai emosinya mereda. Namun, hal yang perlu menjadi catatan adalah:

  1. Sudahkah kita berusaha menyelami apa yang sebetulnya dirasakan dan ingin diungkapkan oleh anak?
  2. Ketika tantrum menjadi alat manipulasi anak untuk mendapatkan keinginannya atau untuk menghindari sumber rasa frustrasinya, hal itu tidak mengembangkan keterampilan penyelesaian masalah pada anak.

Ketika orang tua diajak untuk turun dari mobil, mengantarkannya ke dalam rumah hingga ke dalam ruangan, anak itu mulai lebih tenang. Pada awalnya, anak yang sedang berusaha meredam luapannya, bersikap dengan diam. Ada beberapa hal yang disampaikan oleh psikolog kepada anak (sekaligus orang tuanya) pada saat itu:

  • Menyisir kemungkinan apakah ia ingin bersama orang tuanya, dan diiyakan olehnya.
  • Psikolog kemudian melanjutkan dengan memberikan fakta bahwa pada waktu yang lalu, anak itu bisa bersikap dengan lebih tenang dan mandiri. Hari ini, mungkin ada hal yang meresahkannya. Ada yang berbeda dengan anak di setiap harinya.
  • Menengahi negosiasi antara anak dan orang tua. Orang tua perlu pergi sejenak untuk mengantar adiknya, maka janji orang tua kemudian adalah untuk menjemputnya.
  • Diingatkan kembali mengenai kesepakatan yang dibuat antara anak dan psikolog. Anak akan hadir di setiap sesi dan mengikuti kegiatan hingga selesai. Dengan hadirnya anak di ruangan ini, setelah mengalami luapan emosi yang dahsyat, tentu saja hal itu perlu diapresiasi. Baru kemudian ajakan untuk menuntaskan kegiatan.
  • Penjelasan mengenai gambaran kegiatan hari ini. Tidak ada hal yang berpotensi membuatnya frustrasi. Justru, psikolog dan anak akan sama-sama belajar mencari tahu ketidakbisaannya dan melatih untuk melampauinya.
  • Sebelum memulai sesi, diberikan opsi antara anak mau menceritakan kegundahannya atau segera mulai kegiatan. Anak memilih untuk memulai kegiatan. Dan atas pilihan ini, psikolog pun mengindahkannya dengan persiapan pemanasan dan tidak mengungkit-ungkit kejadian tadi.

Setelah itu, orang tua berpamitan. Anak melepas kepergian dengan lebih tenang, karena anak sudah mengantongi perasaan aman. Rasa aman yang hadir dari keikutsertaan figur orang tua di saat pikirannya mungkin cemas. Bukan orang tua yang seolah kabur karena ketakutan oleh anaknya sendiri dan terdorong untuk segera pergi dengan meninggalkannya. Rasa aman yang hadir dari kejelasan, tentang apa yang sudah baik dan apa yang menjadi harapan. Bukan hal yang serba samar antara apa yang boleh dan apa yang tidak. Rasa aman yang hadir dari kenyataan bahwa hal yang sulit akan ditempuh pendampingan secara bertahap. Bukan hal yang menakutkan karena harus menghadapi kesulitan dan tekanan seorang diri.

Manakala rasa aman itu terusik atau tercerabut, seseorang bisa berubah menjadi monster yang mengamuk. Ketika tidak dibantu, ia akan mengembangkan caranya sendiri, yang bisa jadi kurang tepat dan berpotensi merusak diri. Bantuan ini yang perlu dilakukan secara bertahap. Proses untuk menanamkan, menumbuhkan, dan mengembangkan perasaan aman adalah proses panjang yang perlu dilalui manusia secara berkesadaran.