Mendorong kebiasaan membaca adalah salah satu cara meningkatkan keterampilan literasi. Untuk membangun kebiasaan ini, dua pertanyaan yang menurut saya penting adalah “mengapa perlu membaca” dan “bagaimana seseorang akan membaca”.

Mengapa seseorang perlu membaca?

Jawabannya tidak langsung muncul di kepala saya. Namun, beberapa ingatan ini menyembul keluar.

Saya ingat slogan yang tertempel di dinding sekolah-sekolah:

Buku adalah jendela dunia.

Juga ada pepatah kesehatan mental yang mengatakan:

Ketika kamu tersesat, membacalah.

Dan ada satu kisah yang menggetarkan:

Seorang kakek mengajak cucunya ke tepian sungai sambil membawa saringan kotor dan ember. Kata Kakek kepada cucunya, “coba kamu pindahkan air sungai ke dalam ember dengan saringan ini.” Si cucu keheranan tetapi menuruti perintahnya. Sambil bersungut-sungut dan lelah ia bolak-balik menyaring air dan memindahkannya ke ember. Setiap kali mengangkat saringannya, paling hanya beberapa tetes saja yang berhasil pindah ke ember. Lebih banyak air yang tidak terangkut atau tetes lainnya jatuh sebelum sampai di ember. Beberapa waktu berlalu, tidak tampak penambahan air di dalam ember – yang bertambah malah keringat cucu itu. Akhirnya sambil terduduk di rumput, ia protes, “Kakek! Ini sungguh tidak mungkin! Memindahkan air sungai memenuhi ember ini. Butuh waktu lama sekali, mungkin seumur hidupku!” Kakek tersenyum. “Begitulah membaca. Tujuannya bukan untuk memenuhi embermu, tetapi untuk membersihkan saringanmu”

Begitu magisnya’kah membaca? Ya, semagis itu. Bukan hanya menjadi salah satu sumber pengetahuan tentang dunia, membaca juga memberikan arah meski tidak selalu bisa dipegang, dan membaca sejatinya bisa menjernihkan cara pikir seseorang. Sejak usia kanak hingga dewasa, sifat magis dari membaca adalah hal yang kekal.

Bagaimana seseorang akan membaca?

Hari ini, di ruang konseling, saya menjumpai banyak mata yang berbinar takjub saat melihat buku.

Terhampar di meja konseling beragam jenis buku. Ada buku komik pelajaran matematika SD, buku komik Biologi untuk SMA, buku cerita bergambar tentang tema-tema emosi sosial, buku majalah yang berisi cergam dan cerpen, juga buku edukasi tentang “Terampil Memahami Bacaan: Panduan Praktis Orang Tua dan Pendidik Membangun Fondasi Membaca Yang Kuat”.

Saya membayangkan diri saya sebagai asisten sulap, yang membantu bagaimana buku bekerja.

Gambar adalah dasar dari seseorang membaca. Gambar bisa ditangkap secara sensori, melalui indera visual, taktil, penciuman, perasa, dan pendengaran. Gambar yang ditangkap kemudian dinamakan. Gambar-gambar dan gambaran yang dinamakan itulah menjadi kumpulan kosakata. Kita akan bisa membaca dengan berbekal kosakata. Semakin kaya pemahaman kosakata, semakin kita bisa mengikuti kalimat dalam bacaan. Penting untuk mencari tahu arti kata yang tidak dipahami.

Struktur adalah dasar dari seseorang membaca. Struktur bisa diperoleh dari pembiasaan mengenai rangkaian, urutan, dan prosedur. Semakin kita terbiasa dengan struktur, semakin kita bisa mengikuti alur dalam bacaan. 

Setiap orang memerlukan paparan dan latihan bertahap agar bisa memahami bacaan. Buku bergambar sebelum buku penuh teks.

Maka, begitu saja. Begitu buku bergambar tersaji di meja, para mata segera menemukan tempat berlabuhnya. Ada yang terpincut oleh gambarnya, ada yang terpanggil karena materi sesuai dengan kebutuhan belajarnya, ada yang terjerat karena rasa ingin tahunya; terdiam mencermati di satu halaman, kemudian membalik halaman demi halaman.

*

Ketika seseorang sudah tahu alasan mengapa ia membaca dan sudah memiliki keterampilan teknis membaca, maka ia akan bisa menikmati kemewahan yang ditawarkan oleh bacaan.