Ketika seorang mengalami peristiwa yang memicu kondisi emosional tertentu, ia bisa saja meledak saat emosinya kalut dan memuncak. Setidaknya ada 3 pilihan sikap yang bisa dilakukan terhadap orang tersebut. Pertama, membiarkan emosinya bergerak, keluar, dan mereda dengan sendirinya. Kedua, ikut masuk ke dalam arus perasaan yang besar. Dan ketiga, mencoba merasionalisasi perilakunya. Ketiga pilihan itu pasti membawa konsekuensi yang berbeda-beda – belum lagi kompleksitas menjadi pribadi yang dewasa turut membawa warna tersendiri.

Ketika diberikan ruang sebebas-bebasnya; ia akan lega ketika dibiarkan, sekaligus mungkin saja merasa sendiri dan terasing.

Ketika dibiarkan berkubang dalam kolam perasaannya; ia akan merasa tervalidasi, sekaligus mungkin saja merasakan kebenaran yang semu.

Ketika diajak untuk berpikir; ia akan tercerahkan, sekaligus mungkin saja merasakan stress akibat menekan perasaannya.

Tidak ada satu cara yang “paling” baik. Selalu menggunakan satu cara untuk mengelola dan mengekspresikan emosi juga tidak bijak. Bayangkan apa yang akan terjadi ketika kita terus menerus diberikan ruang tanpa batas hingga kita merasakan perasaan sendirian yang intens. Bayangkan juga apa yang akan terjadi ketika kita berkubang dalam kolam emosi yang dalam hingga terbutakan oleh kebenaran emosional saja. Dan juga bayangkan apa yang akan terjadi apabila kita selalu memikirkan perasaan kita tanpa benar-benar merasakan perasaan kita.

Menyadari adanya tiga pilihan tersebut merupakan satu hal. Hal lainnya adalah kita perlu tahu apa yang kita butuhkan – dan itu adalah hal mendasar dari mengelola emosi secara dewasa.

Ketika kita butuh ruang, pergilah.

Ketika kita perlu berkubang, menyelamlah.

Ketika kita ingin bergerak, berpikirlah.

Dengan disiplin mengenali diri, kita akan lebih terampil dalam merawat emosi sebagai pribadi dewasa.