
“Mas, menurut Mas, waktu itu cepat atau lambat?” tanyaku kepada seorang anak laki-laki berusia 8 tahun.
“Hmm… Tergantung, sih,” jawabnya sambil berpikir, “kayaknya, bisa cepat, bisa lambat, deh.”
“Oh, ya? Kaya gimana, tuh?”
“Iya… Kayanya kalau kita lagi pengenin sesuatu, waktu jadi rasanya lamaaa banget. Tapi kalau lagi gak ditunggu-tunggu, eh, dia tiba-tiba datang.”
“Ada contohnya, gak, Mas?”
“Ada! Nih, kayak gini, sekarang, ya. Mas kan ulang tahunnya bulan Maret. Bulan depan. Dari kemarin Mas lagi mikirin, ‘manaaa, ya, kok bulan Maret ga dateng-dateng. Kok, masih Februari aja, lama banget. Mas kan pengen ulang tahun.’…”
“Ohhh! Hahaha… Jadi Mas nunggu-nunggu ya, dan jadi terasanya lebih lama…”
“Iya! Tapi, nih, kalau yang gak ditungguin, cepet datengnya. Minggu depan tu kan Mas ada ikut lomba sains. Mas sebetulnya pengen, tapi gak yang pengen banget. Mas pengen ikutan biar lihat gedung sekolah lain, hihihi… Eh, tau-tau, kok, udah tinggal beberapa hari lagi, ini. Gimana, nih, udah deket waktunya! Kan harus belajar, ya.”
“Hahaha! Menarik. Jadi waktu itu tergantung, ya. Tergantung sama apa yang kita pikirin, apa yang kita mauin dan yang gak kita mauin, juga dengan apa yang kita persiapin di antaranya.”
*
Menunggu, bisa menjadi hal yang menjemukan, karena waktu seolah berjalan lebih lambat daripada biasanya. Barangkali karena itu, salah satu pilihannya adalah menyibukkan diri dengan mempersiapkan hal-hal atau memperlengkapi diri untuk menjawab berbagai tantangan, tuntutan, dan ekspektasi yang muncul dari hari ke hari.
Sederhana. Kalau lagi eling, seringlah aku berkata pada diri untuk boleh meminjam mata anak dalam melihat kebijaksanaannya.
Bijaksana di usia dewasa muda adalah “punya tekad untuk menentukan jalan hidup”. Tentu hingar-bingar di sekitarnya adalah dorongan dan tekanan tentang produktivitas, secara kuantitas ataupun kualitas. Ada kalanya waktu terasa sedemikian memburu dan membuat tegang. Sementara ketika sedang beristirahat, diri malah merasa bersalah, dan hal ini pun serupa membuat tegang.
Tergantung sama apa yang kita pikirin, apa yang kita mauin dan yang gak kita mauin, juga dengan apa yang kita persiapin di antaranya. Waktu subjektif itu ada di dalam kepala kita.
Kalau hidup adalah juga masa penantian -tanpa harus benar-benar tahu apa yang dinanti-, apa yang akan saya lakukan?