
Pernahkah kamu berada dalam suatu relasi pertemanan yang menurutmu tidak sehat – bukan saja karena ada orang dengan ciri kepribadian tertentu yang “sulit” di dalamnya, tetapi juga karena kamu sulit melepaskan diri dari ikatan itu? Ada dua premis menarik dari kalimat tadi: 1) ada orang dengan ciri kepribadian tertentu yang sulit dan 2) kamu sulit melepaskan diri dari ikatan tersebut. Kita bahas satu per satu, ya.
Ada saja orang dengan ciri kepribadian tertentu yang “sulit” dan menyulitkan
Kita tidak sedang membicarakan diagnosis tertentu – karena itu adalah wewenang profesional (psikiater/psikolog) yang punya pegangan valid berdasarkan tanda-tanda dan gejala perilaku yang tampil selama rentang waktu tertentu. Kita sedang membicarakan pola perilaku yang kita lihat dari seseorang selama kita berelasi dengannya.
Ambil contoh. Kita merasa lelah setiap kali bersama orang ini karena dia hampir selalu membicarakan tentang dirinya dan jarang memberi waktu kepada kita untuk bercerita. Kita merasa tegang karena setiap kali bersamanya, ada saja hal yang salah dan menjadi bahan celaan darinya. Kita merasa bersalah karena setiap kita bersama teman yang lain, rasa irinya besar dan merongrongi kita – meminta diperlakukan yang sama, rasa cemburunya besar dan menuntut kita – membatasi kebebasan untuk bergaul dengan orang lain. Kita merasa jengah, karena saat kita memberikan kritik, ia akan merasa diserang dan beralih mode menyerang kita. Kita merasa frustrasi, karena setiap kali kita membantu mengidentifikasi masalah, perspektifnya berbeda sehingga apapun yang kita sampaikan tidak menjumpai titik temunya. Kita merasa iba, karena kita tahu, sepertinya orang ini butuh bantuan, entah untuk memperbaiki atau membenarkan persepsinya terhadap dunia.
Maka kita kemudian terpikir untuk menyarankannya untuk menjumpai psikolog. Reaksinya bisa kita tebak: menolak.
Lalu, kita kembali menjumpai pola-pola yang sama. Kita tetap melakukan hal yang sama berulang. Kita tetap menimbun perasaan-perasaan tidak nyaman yang sama.
Inilah yang membawa kita pada poin kedua.
Saya sulit melepaskan diri dari ikatan tertentu
Kita punya keyakinan akan menjadi teman yang baik.
Kita merasa sudah berteman sejak lama. Kita berpikir kita harus menerima kekurangan dan kelebihan dirinya. Kita berpikir kita bisa mengubah dirinya menjadi lebih baik. Kita berpikir kita bisa menoleransi kelakuannya. Kita merasa kasihan bila meninggalkannya. Ya, bukankah memang begitu teman yang baik?
Tidak selalu.
Kita punya keyakinan akan menjadi teman yang baik. Namun kebaikan tidak melulu soal bertahan, melainkan belajar untuk melepaskan.
Saat ini kita sedang membicarakan dampaknya terhadap diri kita. Dengan pola reaksi seperti yang dijabarkan di atas, perlahan tapi pasti kita merasa ada bagian diri yang terkikis – kikis yang menumpulkan. Kalau sudah seperti itu, rasa tidak nyaman terhadap diri sendiri pun muncul.
Mungkin kita mempertanyakan diri sendiri, bingung dengan nilai diri yang dimiliki, tidak yakin untuk memutuskan, cenderung takut dan mementingkan orang lain dibandingkan diri sendiri. Dampak dari terkikis sungguh menyakitkan, karena kita menjadi pribadi yang lebih sensitif, rentan, dan mudah hancur. Oleh karena itu pada beberapa orang, diri yang bersangkutanlah yang menjumpai profesional. Membuka kerentanannya, mengobati rasa sakitnya, dan dipandu untuk memberdayakan diri sendiri.
Sisi lainnya, sebetulnya dorongan emosi kita pun sudah memberi sinyal kepada kita untuk mengambil langkah menjauh darinya. Tumpukan emosi sebal, sedih, frustrasi membuat kita merasa muak, hingga merasa perlu menjaga jarak darinya. Dengarkan dirimu. Sayangi dirimu. Bukankah lebih sehat untukmu ada bersama pribadi yang mau saling membangun?
Menanggalkan sementara temanmu bukanlah kesalahan. Menanggalkan sementara temanmu bisa jadi adalah kebenaran saat ini. Menanggalkan sementara temanmu adalah keputusan.
Kamu akan baik-baik saja. Dia akan baik-baik saja.
Kita tidak bisa menyelamatkan orang yang tidak mau diselamatkan. Tidak perlu menjadi heroik untuk orang lain. Pertanyaannya adalah apakah kamu mau menyelamatkan dirimu sendiri?