Itu ceritamu, riwayatmu, masa lalumu. Itu tidak menentukan masa depanmu.

Barangkali kalimat ini yang ingin kita dengar. Kalimat empatik yang mampu meluruhkan emosi yang membelit. Berada dalam energi rasa malu dan rasa bersalah sangatlah memberatkan.

*

Ia pernah dijebak dan dilecehkan oleh atasannya beberapa tahun lalu. Istri atasan menganggapnya sebagai pelakor. Rekan kerja tidak mempercayainya. Ia diteror. Tidak hanya oleh orang-orang tak dikenal yang menghubunginya lewat media sosial, tetapi juga oleh rasa malu yang menghantuinya. Siang dan malam. Suami yang setia terus berjuang memulihkannya sambil tetap menutupi aib ini dari kedua orang tua mereka.

*

Sebelas tahun lalu, ia mengalami depresi pasca melahirkan. Ia meneriaki, membentak, hingga mendiamkan bayinya. Sedemikian benci dan tak ingin menyentuh bayinya. Anaknya bertumbuh, dengan ledakan emosi yang sulit dikendalikan. Ia ingin membantu anaknya, tetapi seperti selalu ada penghalang untuk bisa mendekati anaknya.

*

Sejak kecil ia tak akur dengan ayahnya. Selalu mendapat penolakan dari ayahnya, ada saja kritik dan keluhan yang ayahnya lontarkan. Hampir selalu ada umpatan dan amarah dari ayahnya, atas hal-hal kecil dan besar. Lambat laun ia enggan berinteraksi dengan ayahnya, ia menarik diri, dan kadang antipati. Dari sudut pandangnya, ia merasa jahat kepada ayahnya, suatu sikap yang tidak sepantasnya ia berikan. Dengan penilaian diri yang buruk, ia membatasi mimpi-mimpi besarnya, merasa diri tidak layak, merasa malu.

Baru pada usia dewasanya ia paham bahwa ayahnya memiliki kepribadian ambang, yang termasuk dalam kondisi gangguan kepribadian. Sikap dan perilakunya terhadap ayahnya selama ini sangat manusiawi. Pada umumnya, sedikit sekali orang yang bisa tahan menghadapi individu dengan kepribadian ambang.

*

Penghakiman yang dibuat oleh diri sendiri biasanya sudah begitu kejam. Perasaan menderita itu dibuat sendiri, senyata penjara. Masa tahanannya seperti tak berujung. Hingga ia mendengar bahwa semua yang terjadi adalah bukan kesalahannya, pada saat itulah ia merasa terbebas.

Seakan-akan suara itu yang ia butuhkan selama ini. Ucapan yang berangkat dari rasa pengertian dan penerimaan, bukan semata ingin meringankan beban. Pada akhirnya, beban yang bertahun-tahun itu terangkat. Air matanya berhenti, air mukanya bisa tersenyum.