Beberapa hari sebelum hari piknik tiba, Luna mengajukan diri untuk membawakan kue dadar gulung sebagai tambahan kudapan. Usulan ini disambut baik oleh ketiga temannya. Seorang temannya berseru, “Ah, baik amaat!”

Ungkapan “kamu baik” ini sederhana, dan mari kita tilik dari beberapa sisi. Mengapa temannya mengatakan Luna baik? Apakah Luna baik karena ia berniat membawakan dadar gulung? Lalu, apakah ungkapan temannya tersebut membuat Luna merasa dirinya baik? Apakah ungkapan ini kerap diucapkan sebagai bentuk membalas kebaikan orang lain?

Ya, kita mungkin terbiasa mengucapkan atau mendengar ungkapan memuji orang lain. Tepatnya, sebagian masyarakat kita terbiasa mengarahkan pandangannya kepada orang lain, baik untuk keberadaan yang positif maupun keberadaan yang negatif. Kita tidak terbiasa memeriksa dan mengakui perasaan diri. Lebih mudah mengatakan “kamu itu …” daripada “saya …”.

Mary Jo Meadow dalam bukunya, “Memahami Orang Lain” (1989), mengatakan bahwa:

Dalam berkomunikasi dengan orang lain, pernyataan dengan ‘saya’ lebih baik daripada pernyataan dengan ‘kamu’. Misalnya, “Saya senang melihat Anda memakai baju ini” merupakan pujian yang lebih baik daripada “Bajumu bagus”. (Dalam hal ini, yang lebih diutamakan adalah “bajumu”.)

“Saya merasa senang ketika bingkisan Anda datang!” lebih baik daripada “Anda baik sekali dan penuh perhatian untuk mengirim bingkisan.” Mengatakan ia baik sekali dapat membuatnya merasa kurang mantap, karena ia tahu bahwa hal itu tidak sepenuhnya benar: adakalanya ia kurang memberikan perhatian. Akan tetapi, perasaan kita sebagai penerima bingkisan tidak dapat dibantah. Ia tentu tidak dapat mengurangi kesenangan kita. Ia dapat bergembira telah membuat temannya merasa senang dengan bingkisan tersebut.

Menyatakan dengan gamblang “saya senang”, “saya sedih”, “saya marah”, memang butuh latihan bagi orang yang terbiasa menunjuk ke pribadi orang lain untuk segala perasaan baik dan buruk yang dialami. “Kamu baik banget, (maka saya senang).” “Kamu tidak tahu berterima kasih, (maka saya tercederai).”

Perlu latihan untuk menggeser sudut pandang dan pernyataan yang bermula dari sisi ‘saya’. Untuk mengatakan “saya senang bisa bertemu kamu” (I-statement) mungkin terasa canggung diucapkan dibandingkan “makasih, ya, kamu sudah menemani saya” (you-statement).

Pernyataan dari sisi saya memang membutuhkan kejujuran untuk menyadari perasaan diri.

“Saya cemas menunggu hampir satu jam di sini. Saya berharap dihubungi kalau kamu akan terlambat.”

“Saya takut naik mobil secepat ini. Perlahan sedikit.” Permintaan ini memberikan hasil yang jauh lebih baik daripada pernyataan “Jangan ngebut! Kau mau kita celaka?”

Seringkali untuk mengungkapkan pernyataan ‘saya’ yang jujur, kita perlu melepaskan rasa gengsi, karena tidak hanya mengutarakan apa yang dirasakan, tetapi bisa jadi perasaan terdalam atau kebutuhan yang seringnya ditutupi.

Maka, mengungkapkan dari sisi ‘saya’ sesungguhnya melatih kita dalam mengenali emosi dan ego diri. Yuk, cek dulu, apa yang dirasakan ketika dibawakan kue dadar gulung oleh Luna? Senangkah, atau tidak begitu tertarik karena sedang mengurangi kue manis, atau apa?

Kejujuran-kejujuran sederhana ini rasanya akan sangat membantu berbagai bentuk relasi, atau bahkan memudahkan penyelesaian konflik. Kita bisa mulai melatihnya melalui pernyataan ‘saya’.