
Sejak usia pra-remaja, perempuan ini menemukan bahwa tempat yang paling aman buatnya adalah di kamar tidur. Di sanalah ia menghabiskan waktu, sebelum sekolah dan sepulang sekolah. Ruangan lain di rumahnya adalah tempat yang berbahaya. Ia bisa saja kena serangan sewaktu-waktu. Serangan itu bisa hadir lewat ingatan tentang makian tentang betapa bodohnya dia di sekolah, atau lewat ratapan seorang ibu yang berharap seharusnya ia tidak dilahirkan, atau lewat ejekan saudara-saudaranya tentang betapa pendek dan pendiamnya dia, atau lewat penghakiman guru sekolah yang berkunjung ke rumahnya kemudian mengatakan bahwa semua cerita pengalaman dan kesannya tinggal di dalam rumah adalah kebohongan.
Kini, di usia dewasanya, di rumahnya sendiri, kamar tidur tetap menjadi tempat amannya. Ketika pikiran dan raganya disibukkan oleh urusan anak dan rumah tangga, ia baik-baik saja. Namun, ketika sudah tuntas urusan rumah tangga, dia menyadari bahwa ada satu hal yang belum tuntas: perkara-perkara dalam pikirannya. Maka, ia akan kembali mengurung dirinya. Bermesraan dengan pikiran-pikiran buruk yang tidak tahu berhenti.
Mode bertahannya selama ini adalah imajinasinya. Di kamar yang tidak terlalu besar itu, ia menemukan tempat terluasnya. Pikirannya bisa menjadikannya diri yang baru, lewat satu kata “seandainya”. Di masa anak dan remaja, hal ini menemani dan menyelamatkannya. Di masa remaja akhir dan dewasa muda, hal ini berbalik menyerang dirinya – ketika menemukan bahwa yang ia andaikan itu bukanlah dirinya yang sesungguhnya. Tantangan yang perlu ia hadapi adalah kesulitannya membedakan realita dengan imajinasi. Pikirannya terbatasi secara bawah sadar, bahwa dunia ini tidak baik, dunia ini kejam, dunia ini mengerikan. Oleh karena itu, setiap kali ia beranjak keluar kamar, bahkan untuk sekadar ke kamar mandi, ia perlu menggigit tangannya, memastikan bahwa ia sungguh-sungguh sedang buang air dan tidak bermimpi.
*
Selama tiga puluh tahun, kurang lebih, ia memendam ceritanya sendiri. Hingga kemudian, ia memutuskan untuk mencari pertolongan. Tentu saja ini bukan hal yang sederhana. Ia perlu menepis pikirannya yang menjerit-jerit “Kamu tidak akan bisa mempercayai orang lain!”, “Hanya kamu yang bisa menolong dirimu sendiri!”, “Diam dan berpikirlah mandiri!”
Setibanya di ruangan, hal pertama yang terungkap secara tidak langsung adalah diri yang malu. Rasa malu membuat seseorang memilih untuk beranjak kabur atau justru menyembunyikan diri. Duduknya ia di kursi di ruangan itu seakan memenangkan dirinya. Ia tidak lagi kabur, tidak lagi bersembunyi. Ia ingin mengada.
Pengungkapan diri ini juga bukan hal yang keluar dari mulutnya dengan ringan. Ia menyaksikan bagaimana pikirannya bertarung antara menunjukkan kelemahannya, menunjukkan kemarahannya, atau mengaktivasi mode lamanya untuk menahan diri. Hal ini membuat kepalanya pusing dan suasana hatinya buruk.
Ya, begitulah ketika kata-kata berusaha sekali lagi -dan terus menerus- melindungi diri… atau justru malah menyabotase diri?
Ketika kata-kata kelimpungan, saatnya warna dan goresan yang bekerja. Melalui kegiatan itu, ia bisa mengungkapkan perasaannya tanpa ditentang oleh pikirannya. Maka, hadirlah dirinya.
Dimulai dengan memilih krayon yang mau digunakan. Awalnya ia selalu memilih warna hitam dan enggan memilih warna yang lain. Setelah beberapa hari, ia memberanikan diri untuk memilih warna lain. Ia rasakan tangannya gemetar selama beberapa detik ketika mengambil krayon berwarna dari tempatnya. Ia menghembuskan nafas lega setiap kali ia letakkan krayon itu di sisi kertasnya. Setelah itu, ia mulai menggoreskan krayon sekehendak hatinya.
Ada rasa marah, ada rasa kecewa yang mendalam, ada kegelapan yang pekat, ada tusukan dan tarikan yang tajam, ada garis yang lemah dan lembut, dan lainnya. Momen itu dirasa cukup melegakan baginya, meskipun tetap ada perasaan buruk yang dialami. Kenangan-kenangan lamanya seperti tercurahkan di sana. Tidak ada orang yang mengerti – dan harus mengerti. Namun saat ini, beberapa ingatan itu sudah keluar, tidak lagi bersemayam di ruang pikiran yang dalam. Seperti menguras kolam air, seperti itu juga percampuran emosi yang dialami. Menyesakkan, memerihkan, sekaligus menyakitkan, tetapi di sisi lain ada rasa lega seperti melepas kerak dari dinding.
*
Proses pemulihan ini baru dimulai. Tidak ada yang tahu seberapa panjang proses bagi dirinya. Namun, marilah kita bersuka cita dengan menanamkan tonggak bersejarah ini. Melangkah keluar adalah langkah bermakna dan berani yang perlu disadari oleh dirinya yang selama ini diselimuti malu, ragu, dan takut.