Selamat Tahun Baru 2024!

Libur telah usai, momen keleluasan yang panjang pun telah berlalu. Semoga setiap kita sudah rampung sedikit demi sedikit mengantungi kepingan syukur dari tahun lalu.

Kita kembali bekerja, kembali ke dalam rutinitas, kembali berjalan dalam sistem. Sambil melakukan apa yang perlu dilakukan, tak jarang kita juga memikirkan apa yang ingin dilakukan. Karena kenyataannya, kita bergelut dengan realita yang kadang tidak sesuai dengan ekspektasi. Banyak hal yang belum tercapai, banyak kebutuhan yang belum terpenuhi, banyak keinginan yang belum terwujud. Beberapa orang kemudian memutuskan untuk membuat resolusi di setiap awal tahun. Sebuah daftar yang beragam; ada yang panjang, ada juga yang poin-poin singkat.

Resolusi, menurut KBBI, artinya pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal. Diri yang mendewasa perlu mempersiapkan diri menghadapi berbagai tuntutan yang menyertai. Begitulah kebijaksanaan di usia dewasa terbentuk; perihal menentukan nasib sendiri, di tengah terpaan tuntutan. Kebijaksanaan yang sedang dibentuk adalah bagaimana saya menentukan nasib saya sendiri, bagaimana saya menyadari pilihan untuk berdaya, serta bagaimana saya bisa menggunakan akal budi saya untuk mencapai apa yang saya inginkan.

Agar bisa lebih mudah menjawab tuntutan-tututan, kita perlu juga mengenali urgensi di balik tuntutan itu serta menyadari intensi yang dibangun. Urgensi dan intensi ini sama personalnya dengan resolusi. Hendaknya tidak perlu terobsesi untuk membandingkan diri dengan orang lain.

Urgensi berarti keharusan yang mendesak. Tanyakan pada diri, adakah keharusan yang mendesak? Kepentingan apa persisnya? Seberapa mendesak? Semakin mendesak, biasanya akan melekat dalam pikiran.

Intensi adalah permohonan khusus yang diajukan oleh diri, dimaksudkan dan ditujukan untuk kepentingan tertentu. Pemusatan intensi ini butuh waktu untuk menemukan, mengendapkan, dan bersungguh-sungguh menghayatinya. Semakin intens, semakin kuat ikatan, biasanya akan melekat dalam pikiran.

Ketika pikiran sudah bersepakat, ketiga pilar saling mengokohkan, akan lebih mudah bagi diri untuk bergerak. Selanjutnya, mulailah melakukan satu hal kecil yang diintensikan sesuai dengan urgensinya, dan berdamai dengan resolusi diri. Begitu setiap hari.

Selamat menikmati diri yang baru!

Bocoran: Penulis juga menerapkan ini. Salah satu resolusi saya adalah untuk melakukan peregangan tubuh di awal hari, sesuai dengan riwayat cidera, kondisi dan kemampuan tubuh saat ini. Urgensi saya adalah untuk mempersiapkan bantalan fisik setiap hari. Intensi saya adalah membangun hubungan yang mesra dengan sel-sel tubuh saya -yang sering terabaikan karena saya sehat wal afiat, tidak sakit, dan bisa beraktivitas dengan mudah.

Tidak ada yang spesial dari resolusi itu. Namun, dengan urgensi dan intensi tersebut, penulis merasakan keterhubungan yang kuat antara pikiran dan perasaan. Ketika disadari, ternyata hal tersebut menyumbang secara signifikan pada mental yang sehat untuk menjalani hari-hari. Saya menjadi lebih siap dengan segala kemungkinan. Saya mengenali bentuk mensyukuri secara konkrit. Pada akhirnya, saya punya harapan untuk mengulangi hal yang sama setiap hari -tanpa merasa terlalu dituntut.