Pandemi bisa membuat seseorang tidak mengenali dirinya, bahkan membenci dirinya. “Aku ingin menjadi diriku yang dulu.”
Anakku Pasti Berkebutuhan Khusus
Ada pula sikap orang tua yang sedemikian teguh meyakini anaknya berkebutuhan khusus. Berpegang hanya pada anggapannya sendiri, mengambil tindakan sendiri, tanpa berkonsultasi dengan ahli.
Kita Tidak Terlalu Menginginkan Penghakiman
Di dunia yang sudah cukup dipenuhi oleh rasa cemas, atau insecurity – istilah populer yang marak diucapkan di muda-mudi zaman sekarang – kita bisa hadir sebagai pribadi yang penuh sumber daya atau resourceful.
Pertanyaan yang Dirindukan
Pada keduanya, ditanyakanlah pertanyaan yang sama, “Kamu kenapa?” Pertanyaan ini barangkali memang bukan pertanyaan yang mudah dijawab. Namun, cukup ampuh untuk mendobrak pertahanan diri.
Membantu Melepas Tamengnya
Seorang remaja dengan kecenderungan disleksia datang dengan membawa tameng yang bertuliskan “Aku ‘kan anak pintar!”
Bikin Pasta, Yuk!
Ini bukan pasta biasa, ini pasta kegembiraan. Bukan pesta, tetapi pasta istimewa. Istimewa karena menjadi awal baru terbangunnya relasi yang hangat antara ibu dengan anak remajanya.
Masalah vs Kondisi
Sesungguhnya, ada perbedaan mendasar antara masalah dan kondisi. Ketika harapan tidak sejalan dengan kenyataan, di situlah muncul masalah, bukan?
Menjadi Temannya
Ada keluarga yang nyatanya tidak bisa berkomunikasi. Entah tidak bisa. Atau tidak mau. Mereka saling berdiam.
Guru yang Akan Dikenang Sepanjang Masa
“Sebenarnya, ya, kami belajar soal psikologi juga saat sekolah guru. Tapi, praktik di lapangan itu, penerapan ilmu psikologinya, hanya bisa diterapkan ketika kita benar-benar mengenal si anak.”
Berkaca pada Waktu
Seorang pemuda memutuskan untuk mengambil jeda sebelum melanjutkan perjalanan sekolahnya ke perguruan tinggi. Sebuah keputusan yang tidak umum, dan menjadi tampak mencolok jika dibandingkan dengan arus utama remaja yang “sewajarnya” langsung melanjutkan perkuliahan selepas lulus SMA.
