Dalam sebuah percakapan profesional antara psikolog dan klien, pernah saya jumpai model cerita seperti berikut:

“Aku pergi ke profesional A dan B. Di tempat A, anakku langsung dibilang anak bermasalah. Duh, Ketika disuruh balik lagi, aku ogah, ah. Di profesional B, juga, udah langsung ditakut-takutin nanti stunting, lho, anaknya, nanti ga bisa konsentrasi, nanti ga bisa belajar. Duh. Padahal aku kan justru mau tahu soal anakku yang saat ini 3 tahun kok gak terlalu minat untuk makan.”

Betul, bahwa dengan adanya diagnosis, kita akan lebih mudah dalam mengarahkan perilaku berikut syarat dan ketentuan yang berlaku sesuai diagnosis tersebut. Namun, menentukan diagnosis itu merupakan sebuah perjalanan, bukan sesuatu yang serta-merta hadir secara gamblang. Arti dari sebuah perjalanan adalah menyadari bahwa pelaku perjalanan tersebut adalah anak dan orang tuanya, bukan kita – mau seprofesional apapun kita. Kita bisa hadir sebagai pembaca yang objektif, yang berimbang. Akan sulit mencapai kesetimbangan ketika kita sudah terlampau mempercayai teks. Maka, sebagaimana sebuah cerita yang utuh, pertama-tama kita perlu mengetahui dulu dari sudut pandang tokoh utama, mengenali motif dan latarnya. Bukankah dalam menginterpretasikan kitab, apapun itu, kitab suci atau kita diagnostik, kesesuaian bunyinya perlu dipadankan dengan konteks yang dialami?

Bentuk percakapan yang judgmental juga sering kita jumpai dalam keseharian sebagai kawan. Kurang lebih seperti ini:

A: “Gue heran, deh, kayanya gue punya isu tertentu sama atasan. Kaya, gak pernah dapat atasan yang suportif aja, gitu. Di tempat yang dulu, aneh, orangnya. Di tempat yang sekarang, meski keanehannya berbeda, tapi tetep aja, aneh.”

B: “Loe gak boleh gitu. Loe coba deh introspeksi diri loe. Kalau di mana-mana loe bekerja dan loe menghadapi masalah yang sama, ya, loe yang jadi masalahnya. Sekarang loe pikir deh, loe bayangin jadi atasan dan di dalam tim loe itu, ada loe yang sekarang. Kira-kira loe bakal gimana sebagai atasan, mau gak kerja sama orang kaya loe? Loe yang kudu positif sih, ngadepinnya. Jangan yang ngeluh mulu, ngerasa down, dikecewakan oleh kehidupan.”

A: “Jujur, nih, ya, gue kalau lagi merasa sedih, gue ga nyari loe. Loe gak bisa yang apa-apa selalu harus positif. Gue mending cari orang lain, yang mempersilakan gue dengan perasaan gue.”

Di dunia yang sudah cukup dipenuhi oleh rasa cemas, atau insecurity – istilah populer yang marak diucapkan di muda-mudi zaman sekarang – kita bisa hadir sebagai pribadi yang penuh sumber daya atau resourceful. Berdaya bukan berarti yang paling tahu, melainkan mau peduli, terutama terhadap kondisi orang lain. Bisa jadi kita tahu banyak hal, namun, dengan tetap menggenggam ketidaktahuan tentang perasaan dan pikiran orang lain terhadap masalahnya, sikap yang tertampilkan akan lebih sesuai dengan kebutuhan. Pernah, kan, kita dengar, bahwa “tidak semua orang membutuhkan nasihat saat bercerita, ada kalanya ia hanya perlu didengar”. Berbekal empati, kemampuan mendengarkan, dan sedikit penilaian, kita akan bisa hadir sebagai sosok yang aman dan menenangkan. 

“Who am I to say, what any of this means” (Nine – Sleeping At Last)