Ini bukan pasta biasa, ini pasta kegembiraan. Bukan pesta, tetapi pasta istimewa. Istimewa karena menjadi awal baru terbangunnya relasi yang hangat antara ibu dengan anak remajanya.

Berminggu-minggu ibu khawatir menyaksikan putrinya semakin berjarak, menjauh, mendingin. Tidak mau ditemani di kamarnya. Memberi jawaban singkat-singkat kalau ditanya, dengan pandangan fokus pada gawainya. Makan bersama di meja makan pun, putrinya tetap menonton drama korea. Bukan hanya menjadi lebih tertutup, ia juga mudah membentak bila sedang kesal. Tidur lewat tengah malam jelang subuh karena menonton atau bermain game. Tidak mau ditemani, meminta ibunya keluar dari kamar.

Ada apa dengan anaknya ini? Apakah memang demikian karakteristik remaja zaman sekarang, seperti yang juga dicemaskan banyak orang tua lainnya? Kendati demikian, pada dasarnya para remaja ini tetap punya benang merah kesamaan dengan remaja generasi manapun: bahwa remaja itu absurd. Mereka sulit dipahami karena mereka pun sedang kesulitan memahami dirinya.

Bagi remaja, persoalan sepele bisa dianggap masalah. Komentar teman di postingan media sosial, kaos terselip di lemari adik, cokelat favorit dimakan kakak. Apalagi menyaksikan konflik ayah ibunya. Apabila remaja ini tergolong mudah sensitif, semua bisa menjadi serba salah. Apa-apa membikin marah. Kalau ia bukan remaja yang sensitif, bagaimana? Mungkin saja ia bersikap cuek, tidak ambil pusing, yang kemudian dinilai menyebalkan oleh orang dewasa. Tentu masih banyak karakteristik remaja lainnya.

Lantas, mengapa mereka lekat dengan gawai? Alasan remaja bermain gawai tidak selalu karena adiksi, bisa juga gawai menjadi pengalih dari hal-hal yang membuatnya tertekan di rumah. Remaja zaman dulu bisa hidup tanpa gawai, karena mereka punya banyak pilihan untuk mengalihkan keresahannya, misalnya gitar, bola, kertas gambar, cemilan, sepeda, ransel dan gunung, termasuk ada saja cara-cara pengalihan lain yang tergolong kurang sehat.

Mereka tahu ada yang salah, tetapi tidak tahu persisnya apa. Mereka tahu punya masalah, tetapi tidak ingin membebani pikiran orang tua dengan sebentar-sebentar cerita atau mengadu seperti anak kecil. Remaja sesungguhnya ingin dibantu, meskipun memasang gengsi.

Remaja dengan dunianya, dan para orang tua yang ingin menjangkau mereka.

Maka berusahalah ibu ini masuk ke dunia putrinya. Melalui pasta! Ajakan masak bersama itu rupanya disambut baik putrinya. Ibu dengan kedua anaknya larut dalam aktivitas seru malam itu. “Thank you, Mama”, ucap putri bungsunya.

Melangkah masuk ke dunia remaja memang memerlukan upaya lebih, bahkan bila mungkin, keluar dari zona nyaman orang tua sehari-hari. Tiga hari kemudian, ibu mengajukan ide berikutnya: pasang tenda camping di rumah. Bayangkan keseruan bermain kartu, mendendangkan lagu, atau tebak-tebakan pada malam itu.