Seorang remaja dengan kecenderungan disleksia datang dengan membawa tameng yang bertuliskan “Aku ‘kan anak pintar!” Tameng itu ia bawa ke mana-mana, terutama ke tempat-tempat yang berhubungan dengan sekolah, dengan belajar, dengan prestasi akademis. Apabila sewaktu-waktu ada orang yang bertanya padanya soal sekolah, ia sodorkan saja tameng tersebut. Pun bila ada orang yang mengkritik nilai dan performa belajarnya, ia berlindung di balik tameng tersebut.

Dasarnya, remaja ini memang cukup cerdas. Ia terampil berbahasa, lisannya jelas, pemahaman terhadap konsep-konsep umum pun cukup kuat. Maka, ketika berbincang dengannya, kita juga akan sependapat bahwa “anak ini anak cerdas”. Hanya saja, jika kita melihat ke prestasi belajarnya, kita mulai meragukan kemampuan remaja ini.

Nilai-nilainya cukup bisa memenuhi standar kompetensi, tetapi ya, begitu, pas-pas-an. Hal ini terjadi karena tugas yang diberikan tidak tuntas dikerjakan atau terlambat mengumpulkan lantaran ia harus berkali-kali mengulang proses pengerjaan tugas tertulisnya, mulai dari membaca materi, mencari bahan, dan menuangkannya dalam tulisan. Saat ujian, juga jadi momen yang menegangkan buatnya, karena ia sungguh tidak bisa mengingat atau menemukan jawabannya, sekalipun sudah ia baca berulang kali, maka wajar kalau nilainya kemudian kurang. Lama kelamaan ia tertekan dengan sekolah. Sudah tidur larut, berusaha belajar dan mengerjakan tugas, tetapi tetap saja tidak paham. Keadaan ini membuatnya berpikir bahwa “aku pintar, akan tetapi, mengapa aku tampak bodoh karena sulit mengerti pelajaran?”

Pertanyaan semacam ini, jika terus berulang dan diulang dalam kepala, akan mengikis konsep diri remaja. Apa yang bisa kita lakukan? Sebagai orang dewasa, beberapa opsi di antaranya: a) tetap memiliki aspirasi tinggi dan membantunya secara langsung dengan mengerjakan dan menuntaskan tugas-tugasnya, b) menurunkan aspirasi dan membiarkannya sesuai kondisi kesulitan yang dialami, atau c) mendukung aspirasi anak dan mencari jalan untuk membantunya memahami kesulitannya. Setiap opsi membawa konsekuensi masing-masing.

Pada remaja ini, syukur bahwa kesadaran dan perhatian orang tua bertumbuh dan berkembang. Awalnya, orang tua memilih opsi A, hingga lelah juga menjalankan tugas tambahan sekaligus menihilkan potensi anak dengan mengerjakan tugas si anak. Kemudian, setelah proses yang cukup panjang, mulai dari menjalani pemeriksaan dan bersitegang dengan diagnosis disleksia, orang tua mengambil keputusan C.

Setelah itu, pertanyaan dalam benak si remaja bukan lagi soal “apakah aku pintar atau tidak pintar?” melainkan “aku tahu aku pintar dan mampu, tetapi mengapa sulit sekali untukku mengingat istilah baru, mencerna bacaan berat, dan menstrukturkan pemikiranku dalam tulisan?” Rumusan masalah yang jelas dan konkrit akan membantu penelusuran jawaban yang lebih tepat serta membangun konsep diri secara lebih objektif.

Kini, ia bertanya, “Aku tahu aku pintar, mampu, dan punya kecenderungan disleksia. Dengan ini semua, bagaimana ya caraku untuk beradaptasi dalam konteks belajar di akademis?”

Artinya, ia siap, menyimpan tamengnya dan mengokohkan dirinya.