
“Saya itu, kalau mengingat kelas I-1 tahun ajaran 2004/2005, yang pertama terlintas adalah momen ketika salah satu anak saya menelepon dengan suara panik mengabarkan ada temannya yang baku hantam di kelas. Saat itu saya sedang ada urusan di luar sekolah, merintis usaha dan bisnis. Namun, saya langsung tinggalkan tempat saya dan mengendarai mobil saya agar bisa tiba di sekolah secepat mungkin. Saya bahkan ingat, saya lari di lorong sekolah, naik tangga, dan langsung menuju kelas I-1. Terkejutnya bukan main, saat saya melihat kalian yang sudah siap dengan ucapan ‘Selamat Ulang Tahun, Ibu!’” kenang beliau, guru Fisika yang sudah 30-an tahun mengabdi.
Ingatan yang sungguh menggetarkan bagi anak siswanya yang mendengar. Betapa tidak. Wali kelasnya meletakkan anak-anak kelasnya sebagai prioritas, melebihi cita-cita dan rintisan bisnisnya. Apa yang lebih didambakan oleh remaja selain perasaan dianggap dan dikasihi?
“Sebenarnya, ya, kami belajar soal psikologi juga saat sekolah guru. Tapi, praktik di lapangan itu, penerapan ilmu psikologinya, hanya bisa diterapkan ketika kita benar-benar mengenal si anak. Maka, selama ini, itu yang saya lakukan: berusaha kenal dengan setiap siswa saya, terlebih yang jadi anak kelas saya. Penting buat kita memahami bahasa-bahasa mereka, tahu apa yang jadi keresahan mereka, dan menyambut ajakan mereka, dan lebih banyak bersikap proaktif. Kalau itu semua sudah dilakoni, kita mendapatkan apa yang saya sebut ‘hati anak-anak’,” papar seorang guru Bahasa Indonesia.
Pengalamannya masih terhitung muda, katanya, sekitar 15 tahun berkarya dan mendampingi remaja-remaja melintasi perubahan era. Zaman pasti berubah, tetapi anak tetaplah anak, yang kehadirannya di dunia bukanlah kehendaknya sehingga wajar apabila anak, terlebih remaja, memunculkan banyak pertanyaan dan banyak kebutuhan yang menuntut untuk dijawab.
Menjadi pengganti dan atau perpanjangan tangan orang tua, membutuhkan dedikasi dan hati untuk mengasihi. Lebih melekat daripada rumus dan teori-teori Fisika atau aturan baku tentang SPOK dalam membuat kalimat, keluasan hati para guru dalam bersikap dan memberi teladanlah yang membuatnya dikenang sepanjang masa.
Terima kasih, Guruku.