
“Semoga saja kali ini bisa ditangani, Mbak. Sejak SD, masalahnya ini nggak selesai-selesai.”
Sesungguhnya, ada perbedaan mendasar antara masalah dan kondisi. Ketika bicara tentang masalah, biasanya arah pikiran kita adalah mencari cara penyelesaiannya, pemecahannya, penanganannya. Artinya, ada suatu ganjalan yang kita ingin segera berakhir. Ketika akhirnya masalah selesai, barulah kita merasa lega karena terbebas dari masalah.
Berbeda dengan kondisi. Suatu kondisi atau keadaan bisa bersifat sementara, bisa juga permanen. Sangat mungkin suatu kondisi menyertai sepanjang hidup kita, memang kondisi terberi, yang artinya tiada lain hanya perlu kita terima.
Remaja ini memiliki kondisi khusus, yang sebenarnya tidak ujug-ujug baru muncul pada tahun ini, melainkan sudah sejak masa kecilnya. Kondisi khususnya sering dipandang orang-orang sebagai masalah, karena memang berimbas pada munculnya masalah, seperti misalnya masalah akademis, masalah emosi, pergaulan, kedisiplinan, dan lainnya.
Ketika disadari bahwa masalahnya ini berawal atau dilandasi kondisi kekhususannya, sebenarnya hal ini saja sudah bisa membuat kita menggeser cara pandang. Tetapi, hal ini tidak selalu mudah. Tidak mudah untuk memahami bahwa ada anak yang memang sulit membaca dan mengenali susunan huruf, ada anak yang memang sulit menuangkan pikirannya dalam tulisan, ada anak yang daya ingatnya tidak bertahan lama. Kekhususan yang tidak terlihat dalam tampilan fisiknya, tetapi terjadi dalam neurologisnya.
“Harusnya ia bisa, dong!” “Ini, kan, mudah, kok, dia nggak mengerti?” “Masak, harus saya ingatkan terus berulang-ulang?”
Ya, ini akan selalu menjadi masalah ketika kita sudah memasang ukuran bahwa ‘harusnya’ ia mampu. Ketika harapan tidak sejalan dengan kenyataan, di situlah muncul masalah, bukan?
Bagaimana kalau dilihat sebagai ‘kondisi’? Ini kondisi terberi, kondisi bawaan yang anak alami saat ini dan akan terus dibawa selama hidupnya. “Kalau begitu, saya bisa lakukan apa untuk membantunya?” Rasanya pertanyaan ini jauh lebih ramah bila dibandingkan dengan tuntutan.
Rasanya, kita membutuhkan lebih banyak lingkungan yang ramah. Pastinya lingkungan ini membuat anak dan remaja merasa diterima dalam keluarganya, karena mereka bukan lagi suatu kenyataan yang tidak sesuai harapan.