Ada keluarga yang nyatanya tidak bisa berkomunikasi.

Sorry Miss, kalau harus bicara sama dia, saya nggak bisa. Daripada kami semakin banyak marah dan defense, dan bikin dia trauma, lebih baik saya mengurangi interaksi sama dia.”

“Sekarang sudah jarang main bareng. Mama dan Papa sibuk masing-masing. Mama nonton Korea, Papa main hape. Kakak juga di kamar main game.”

Entah tidak bisa. Atau tidak mau. Mereka saling berdiam.

Diam mungkin emas, tetapi tidak selamanya, karena semakin lama didiamkan, hati bisa membatu. Saat awal-awal berjumpa, si bungsu ini tidak banyak bicara. Ia lebih banyak bermain game di handphone-nya, sampai-sampai dikeluhkan guru, dikeluhkan ibu dan ayahnya. Semakin keras juga wataknya, yang kalau marah langsung membanting handphone atau laptop-nya, atau apa saja di dekatnya.

“Coba kamu tuliskan siapa saja orang yang bisa kamu percaya, satu nama untuk setiap jari tangan di gambar ini. Jadi ada lima nama, ya.”

“Nggak ada. Nggak ada yang ngertiin aku.”

Kini usianya 16 tahun, dengan tetap belum dimengerti. Mungkin ia seperti siswa bermasalah di mata guru, siswa yang sulit patuh dan sulit didekati. Ibu dan ayahnya tahu bahwa ia memiliki kesulitan belajar, maka dipindahkanlah sekolahnya, ditanyakanlah dari satu psikolog ke psikolog lain, satu terapi ke terapi lain, dititipkanlah ia kepada satu tutor ke tutor lain. Namun sepertinya ia tidak pernah benar-benar dipahami dari dekat. “Kayaknya ia masih perlu dibantu tutor deh, Miss. Kalau saya yang harus dampingi, saya angkat tangan,” sambil ibunya menggelengkan kepala.

Apa rasanya tidak dimengerti selama bertahun-tahun?

Berapa banyak anak yang tumbuh dengan kesulitan belajar yang kemudian frustrasi dan mengakhiri hidupnya atau tidak mampu menempatkan dirinya di lingkungan lalu memilih tindakan kriminal? Tidak semua berakhir demikian tentunya, namun banyak jurnal penelitian menunjukkan korelasi ini, antara kesulitan belajar selama masa sekolah dengan tingkat depresi, gangguan kepribadian, dan masalah kriminal.

“Baik, Bu, minggu depan saya jadwalkan lagi konseling untuknya.” Setidaknya kuharap dapat mencegah satu remaja menjadi orang dewasa yang rentan. Setidaknya kuharap ia bisa melewati masa remajanya dengan cukup waras, bisa menceritakan hobi dan masalahnya. Kuambil peran itu, menjadi temannya.