Pernahkah kamu berada dalam suatu relasi pertemanan yang menurutmu tidak sehat – bukan saja karena ada orang dengan ciri kepribadian tertentu yang “sulit” di dalamnya, tetapi juga karena kamu sulit melepaskan diri dari ikatan itu?
relasi
Seperti Apa Rasanya Dipahami?
Bayangkan kamu datang dengan pertanyaan, “Mungkinkah aku tetap bisa merasa berharga, dengan kondisi tanpa apapun?”
Sesekali, Kita Perlu Mementingkan Diri Sendiri
Beberapa pribadi dengan kecenderungan gaya komunikasi pasif-agresif memiliki tantangan ketika menghadapi konflik, terutama konflik dengan orang lain. Ia kesulitan mengakui kemarahannya.
Katakan Dengan ‘Saya’
Kita tidak terbiasa memeriksa dan mengakui perasaan diri. Lebih mudah mengatakan “kamu itu …” daripada “saya …”
Menjinakkan “Monster”
Manakala rasa aman itu terusik atau tercerabut, seseorang bisa berubah menjadi monster yang mengamuk.
Agar Percaya
Ia dilanda ketakutan akan hal-hal buruk yang mungkin terjadi dalam hubungan pacaran itu. Hal-hal buruk yang mungkin akan membebani perasaan bersalah dan rasa tidak amannya, yang sudah ia bawa sejak lama.
Tips Berteman dari Seorang yang Sulit Berteman
Dengan pertemananku yang sekarang, pelan-pelan aku belajar bahwa ‘Ketika aku gak sempurna, it’s fine. Ada kalanya aku tidak diterima, ada kalanya juga aku yang gak menerima mereka.’
Kita Tidak Terlalu Menginginkan Penghakiman
Di dunia yang sudah cukup dipenuhi oleh rasa cemas, atau insecurity – istilah populer yang marak diucapkan di muda-mudi zaman sekarang – kita bisa hadir sebagai pribadi yang penuh sumber daya atau resourceful.
Pertanyaan yang Dirindukan
Pada keduanya, ditanyakanlah pertanyaan yang sama, “Kamu kenapa?” Pertanyaan ini barangkali memang bukan pertanyaan yang mudah dijawab. Namun, cukup ampuh untuk mendobrak pertahanan diri.
Waktu
“Barangkali karena keberlimpahan yang saya punya adalah waktu. Jadi ketika mendapat kejadian ini, melihat peristiwa itu, saya cukup punya beberapa waktu untuk mendengar sebelum berespon.”









