
“Really? Do you have time?” tanyanya bersemangat campur takut-takut, ketika diajak untuk memasukkan potongan-potongan plastik kemasan ke dalam botol. Bocah 8 tahun itu baru pertama kali melihat ecobrick. Ada rasa ingin tahu, tetapi ada juga rasa sungkan.
“Saya merasa Anda itu tidak judgmental, Anda tidak berpihak pada saya, Anda juga tidak berpihak pada siapa. Buat saya, itu adalah level tertinggi seseorang. Kapan, ya, saya bisa seperti itu?” katanya di akhir pertemuan. Pertemuan yang saling memberdayakan –lagipula setiap kita selalu butuh orang lain untuk menguatkan, entah sebagai perpanjangan tangan Tuhan atau demi mendengar suara dari hati terdalam.
Pada keduanya, secara terpisah, kuberikan jawaban yang kurang lebih sama. Kepada si bocah, jawabannya adalah “Tentu!” dan kepada wanita dewasa muda kujawab, “Barangkali karena keberlimpahan yang saya punya adalah waktu. Jadi ketika mendapat kejadian ini, melihat peristiwa itu, saya cukup punya beberapa waktu untuk mendengar sebelum berespon.”
Investasi yang tidak berharga, barangkali adalah waktu. Makanya ia kerap diabaikan, atau bisa dianggap merugikan. Dibandingkan kemapanan dan kestabilan, waktu layak mendapat prioritas kesekian. Seperti ibu dari si bocah, “Saya tidak punya waktu untuk bermain bersama anak saya, karena ada begitu banyak urusan yang harus dipenuhi.” Dibandingkan status, waktu akan dikesampingkan. Seperti si wanita muda, “Saya butuh pengakuan orang lain, bahwa saya dianggap mampu, maka saya akan mengusahakan performa yang terbaik dari diri saya, meskipun saya harus mengorbankan kedamaian saya.” Dibandingkan harga diri, waktu akan dibanting harganya dan menuntut orang lain memungut serpih-serpihannya dan menyusunnya menjadi satu waktu yang utuh dan tampak baik-baik. Seperti satu ibu lain yang masih sulit menerima kondisi kesulitan yang dialami putrinya di usia remajanya, “Saya tidak mau tahu, pokoknya, Anda yang mengurus masalah emosinya, ia sudah begini beberapa kali sejak kecil.”
Inilah realita. Kita akan selalu cemas, kita akan selalu kehabisan waktu.
Sebelum waktu hidup kita dicukupkan,
24 jam dalam satu hari, sudahkah kita menjatuhkan pilihan atas peran-peran kita? Tentang mengapa dan bagaimana menjadi ibu/bapak bekerja, ibu/bapak rumah tangga, dan di antaranya; tentang mengapa dan bagaimana memilih tidak berkeluarga; tentang mengapa dan bagaimana tidak memiliki anak; tentang mengapa dan bagaimana memilih pasangan yang seperti itu; tentang mengapa dan bagaimana memilih melanjutkan studi atau berhenti di tengah jalan; dan lainnya.
24 jam dalam satu hari, sudahkah kita berterima kasih pada diri kita atas ketetapan hati yang disadari?
24 jam dalam satu hari, sudahkah kita memaafkan diri kita atas kebatuan hati yang tidak disadari?