“Tidak mudah bagiku untuk pada akhirnya bisa berteman dengan teman-teman dekatku yang sekarang. Dulu, ada saja alasan ketidakcocokan dengan orang lain. Dia begitulah, beginilah. Ya, aku sulit mendapatkan teman. Hingga kemudian, yang membuatku bisa berkawan adalah pertama-tama, dari diriku dulu, barangkali ya, aku yang mencoba untuk keluar dari zona nyamanku. Di mataku, mereka itu bukan anak yang serius, lebih suka main, ya, mereka anak-anak main. Sementara, aku serius. Aku mencoba untuk menjadi tidak serius dan mencoba untuk bisa menikmati main. Itu pertama.”

“Yang kedua, masih dari diriku juga. Aku menyadari bahwa aku perlu mengubah cara pikirku. Dulu, aku berpikir bahwa ‘Yang penting adalah diterima, aku harus diterima. Dan untuk diterima, aku haruslah sempurna, menjadi orang yang bisa diandalkan, ya, sempurna’ tapi ternyata, melelahkan menjadi seperti itu. Dengan pertemananku yang sekarang, pelan-pelan aku belajar bahwa ‘Ketika aku gak sempurna, it’s fine. Ada kalanya aku tidak diterima, ada kalanya juga aku yang gak menerima mereka.’”

Bukankah bisa mengekspresikan penolakan juga adalah bagian dari penerimaan? Pertemanan yang sehat adalah pertemanan yang memberikan rasa aman, dengan menerima segala bentuk eksplorasi emosi di antara teman.

Menerimanya terlebih dahulu, kemudian mengolahnya bersama-sama. Apa yang membuatmu tersinggung? Mengapa kamu kecewa? Apakah aku menyakitimu? Sudahkah kita bersenang-senang bersama? Apakah kita menertawakan hal yang sama? Apa yang bisa kulakukan untuk menghiburmu? Sudahkah kita saling mendengarkan? Bisakah kita belajar menepati janji?

Berteman adalah salah satu kebutuhan dasar manusia dalam melalui kompleksitas hidup ini. Atau, berteman, bisa jadi salah satu pilihan kecil yang melengkapi kompleksitas hidup ini. Kamu lebih sreg dengan premis yang mana?  Ah, ya, ini ada sedikit pesan dari seseorang yang pada akhirnya senang berteman:

Orang yang terlalu serius butuh teman yang bisa meredakan ketegangannya, sedikit saja, untuk belajar menoleransi kekonyolan dan kelucuan-kelucuan hidup.

Orang yang terlalu bercanda pun butuh teman yang bisa menyentilnya sedikit, menggoyahkan sisi-sisi candanya, hingga terkuaklah sisi terdalam yang penuh luka namun disembunyikan.