
“Saya sayang banget, Kak, sama pacar saya,” ujarnya, “Saya gak mau dia sampai kenapa-kenapa.”
“Saya, tuh, tau, ya, gimana pikiran laki-laki, itu. Saya gak mau, lah, kalau pacar saya sampai dijadiin bahan pikiran cowok-cowok, itu. Makanya, saya larang dia untuk pakai pakaian yang terbuka.”
“Saya udah tahu, mau kuliah di mana. Tapi, kepikiran, kalau LDR sama dia, apa dia bisa dipercaya?”
“Saya, tuh, jadi overprotective, karena dia gak bisa dipercaya.”
Orang lain yang tidak bisa dipercaya, atau diri saya yang sulit percaya?
*
Seorang remaja yang sedang belajar mencintai membagikan keresahan-keresahannya. Ia dilanda ketakutan akan hal-hal buruk yang mungkin terjadi dalam hubungan pacaran itu. Tepatnya, hal-hal buruk yang mungkin akan menimpa dirinya. Tepatnya lagi, hal-hal buruk yang mungkin akan membebani perasaan bersalah dan rasa tidak amannya, yang sudah ia bawa sejak lama.
Bagaimana agar percaya? Hal paling mudah adalah dengan melihat apa yang sesungguhnya terjadi. Melihat dan mengolah fakta, adalah cara termudah untuk percaya. Hal ini jauh lebih mudah daripada mendengar asumsi diri dan terlalu sibuk berpikir terhadap kemungkinan-kemungkinan yang ternyata pada akhirnya tidak terjadi. Maka, hal penting pertama yang bisa dilatih adalah dengan menangkap hal-hal faktual yang terjadi. Kita kesampingkan dulu perihal baik-buruk yang merupakan penilaian diri.
Bagaimana agar percaya? Persisnya adalah memangkas asumsi-asumsi secara pelan tetapi pasti. Asumsi bisa tumbuh dari rasa tidak aman yang tidak diproses dan dibiarkan liar di alam bawah sadar kita. Asumsi bisa kita kenali dari bagaimana kita berpikir dan apa yang dikatakan oleh suara pikiran kita. Itulah hasil bawah sadar kita, yang mewujud penilaian baik-buruk mengenai sesuatu. Maka, hal penting kedua yang bisa kita latih adalah “menangkap pikiran”, apa saja hal-hal yang terlintas di pikiran kita.
Soal tangkap-menangkap ini, praktiknya adalah dengan mendengarkan diri dan menuliskan apa yang kita pikirkan terhadap sesuatu.
Asumsi itu seperti penipu yang cekatan. Ia bisa membawa pergi kebenaran dengan secepat kilat dan membuat kita percaya pada dirinya. Seringkali kita menganggap asumsi adalah kebenaran. Padahal, asumsi itu selalu membawa dua sisi, ada kemungkinan benar dan kemungkinan salah. Mari kita lakukan penghakiman diri yang lebih objektif, bahwa ada kalanya asumsi saya tidaklah benar. Di sisi lain, fakta sering dianggap sebagai ilusi. Kebenarannya sungguh nyata, tetapi kita lebih memilih untuk mengabaikan hal tersebut. Mari kita beri kredit pada kejadian faktual karena hal faktual tidak melulu bicara tentang “saya”. Mudah-mudahan, dengan seperti itu, kita jadi bisa berjarak dengan diri, lebih bisa berimbang dan pelan-pelan memampukan diri untuk percaya pada diri sendiri.