
Tidak semua ayah memiliki karakter ayah yang ideal. Ada ayah-ayah yang tidak siap menjadi ayah, bapak, papa, papi, abah, baba, daddy, apapun sebutannya. Sangat mungkin menjadi tidak siap, dilatari banyak faktor. Bisa jadi ia sejak masa kecilnya tidak memiliki figur ayah ideal. Bisa jadi orientasi hidupnya masih berpusat pada dirinya sendiri dan segala tuntutan atau ukuran dirinya, belum menyadari bahwa keputusan menikah dan menjadi ayah berarti memberikan hidupnya bagi pasangan dan anak. Bisa jadi ada hambatan diri yang sudah dimiliki sejak lama, baik itu hambatan komunikasi, kesulitan manajemen diri, mengendalikan amarah, dan lain sebagainya yang bisa berkaitan dengan masalah kepribadian. Bahkan orientasi kepada diri sendiri atau egosentrisme bisa saja menjadikan seorang ayah merasa bersaing dengan anak laki-lakinya, atau juga anak perempuannya.
Kira-kira seperti apa gambaran keluarganya? Mungkin tidak nyaman, mungkin penuh kecemasan, berjarak, berkonflik, berdampak pada emosi pasangan dan anak. Ayah yang tidak siap pasti membutuhkan kesiapan dan pengertian ekstra dari pasangan dan anak. Barangkali tidak hanya anak yang bisa berkebutuhan khusus, tetapi ayah atau ibu bisa saja berkebutuhan khusus. Seorang yang berkebutuhan khusus membutuhkan penolong (caregiver).
Sering terjadi, seseorang tidak menyadari kebutuhan khususnya. Tidak menyadari ketidaksiapannya. Melihat, mengejar yang di depan, ia tidak benar-benar melihat kondisi asli dirinya dan orang terdekatnya. Hadirlah anak-anak yang merasa ayahnya berjarak, sulit dijangkau. Hadirlah para ibu yang lelah memenuhi ekspektasi dan tuntutan suaminya.
Siap dan tidak siap merupakan kondisi yang dinamis, bukan statis. Manusia itu dinamis. Maka yang tidak siap bisa menjadi siap. Seberapa cepat atau lambat sesorang siap menjalani perannya sangat bergantung dinamika kehidupannya. Meskipun proses perkembangan jiwa sifatnya sangat pribadi atau individual, dukungan orang terdekat memainkan peran penting. Membangun kesadaran diri bukan semata proses dalam kesendirian, melainkan dengan menyadari setiap interaksi bersama orang lain.