
Beredar di media sosial, meme tentang pola asuh dari satu generasi ke generasi berikutnya. Katanya, kalau dari generasi terdahulu, kita sering mendapatkan kalimat-kalimat yang menjatuhkan, maka tugas kita adalah memutus kebiasaan tersebut dan menggantinya dengan kalimat yang membangun. Seperti pada gambar. Kakek sering mengata-ngatai ayah kita dengan “Bodoh, kau, gitu aja ga bisa”, lalu ayah kita sering melontarkan kalimat “Kamu, tuh, harus banggain Bapak dong, masa kalah, lihat tuh sepupu kamu udah sukses!” Estafet berlanjut pada kita. Namun, dengan proteksi dan penyaring, kita menyampaikan pada anak bahwa “Papa sayang sama kamu, Nak.”

Bagi sebagian orang, kalimat “I love you” itu terkesan memanjakan anak. Justru ketangguhan itu dibangun dari kalimat-kalimat tajam. Kalau dikatai bodoh, maka tunjukkan yang sebaliknya. Kalau dikatai masih kurang, maka upayakan yang lebih. Kalau dimanja saja dengan ungkapan sayang, maka lemahlah mentalnya.
Bagi sebagian orang yang lain, memutus lingkaran setan adalah hal yang mustahil. Bagaimana mungkin, seseorang yang terbiasa direndahkan, harus bisa menyayangi dan mengangkat orang lain? Apa mungkin, seseorang yang terus merasa kurang, bisa berbagi? Apanya yang harus dibagi? Kekurangannya?
Marilah kita melihat hal yang tak kasat mata, yang justru bisa menjadi fondasi kuat untuk pribadi yang lebih sehat. Bagi seseorang, untuk bisa menghargai perasaan orang lain, maka ia perlu terlebih dulu dihargai perasaannya. Pengalaman ini krusial.
Mari kita tengok ke masa lalu, saat kita masih kanak. Betul, bahwa barangkali kita dituntut nilai tinggi, bahwa kita haruslah bisa dibanggakan. Namun, bersamaan dengan itu, ada figur ayah/ibu yang lelah sepulang kerja masih meluangkan waktu untuk mengajari matematika dan memberikan soal-soal tambahan. Juga ada figur ayah/ibu yang setiap sore menemani belajar, menanya-nanyai soal materi yang sudah dibaca. Ada figur ayah/ibu yang menelepon saat dinas luar kota, menanyakan bagaimana sekolahnya tadi, apakah menyenangkan atau ada anak yang menyebalkan. Ada figur ayah/ibu yang membuat tabel perkalian buat dihapalkan di meja belajar. Ada figur ayah/ibu yang menjemput sekolah. Ada figur ayah/ibu yang senang menuliskan surat izin karena mau mengajak anak-anaknya jalan-jalan. Ada figur ayah/ibu yang dalam 12 tahun sekolah, selalu atau bergiliran mengambilkan raport. Ada figur ayah/ibu yang menepati janji dan mentraktir saat menang lomba.
Ketika kehadiran figur ayah/ibu dalam memberikan hal-hal afektif semacam itu menyertai tuntutan pada anak, maka peluang anak untuk bertumbuh secara tangguh akan lebih besar. Tidaklah kemudian anak memiliki mental yang lemah ketika dimarahi atau dituntut, sebab tabungan emosi positifnya tercukupi. Tabungan inilah yang membentuk pertahanan. Tabungan ini pula yang kemudian dapat kita teruskan pada anak/generasi selanjutnya.
Maka, mari kita sadari sumber daya yang ada dalam diri kita, keberhasilan kita, upaya mencoba berbagai hal, dan merasai pengalaman gagal sebagai bagian dari penghargaan diri dan rasa syukur terhadap hidup kita.