Ada saja luka. Yang kecil dan yang besar. Yang disadari dan tak disadari. Mungkin mulanya disadari, tapi perlindungan diri kita menyimpannya di dasar agar tak mengusik dan menyita energi sadar.

Anak dengan bawaan perfeksionis tinggal bersama orang tua yang jauh dari sempurna. Menginginkan ayah yang ideal dan ibu yang perhatian. Kenyataannya, pemandangan konflik mengisi masa kecilnya. Konflik yang disaksikan di luar dan konflik antara ia dan harapan di dalam kepalanya.

Anak itu beranjak dewasa dengan membawa sikap bermusuhan kepada keluarganya tanpa ia tahu dengan pasti asal muasalnya perasaan itu. Ia hanya kemudian memahami lebih jelas mengenai temperamen ayahnya, suatu karakter yang terlalu sensitif sehingga sering menyulitkan siapa saja. Dan itu melelahkan, serta melukainya sejak kecil hingga dewasa.

Tibalah ia pada pilihan untuk menyembuhkan luka. Ya, ia mau menuntaskan urusan yang belum selesai ini, meski tidak ada jaminan bahwa kelak urusan masa lalunya benar-benar selesai. Diri dewasanya menggali ke dasar perasaan jiwa kanak-kanaknya. Ada kecewa, sedih, marah, sebal, dan tidak dianggap. Dalam bayangan pikirannya, ia yang dewasa menghampiri jiwa kanak-kanaknya yang sedang duduk tertunduk diam. Kalau ada pesan yang mau disampaikan kepada anak itu, apa yang akan ia katakan kepadanya? Ia sapa anak itu dan mengucapkan satu pesan dari jiwa dewasanya, dengan berbekal kematangan pengalaman dan pemahaman mengenai orang tuanya, kepada jiwa kanak-kanaknya.

“Kak, Kakak maafin Ayah, ya. Ayah tidak tau apa yang diperbuat.”

Seketika seperti ada beban yang perlahan terlepas dari bahunya. Karena anak ini pada dasarnya pemaaf dan penurut, pesan itu dengan mudah ia terima. Anak itu mengangguk. Sakit hatinya perlahan luruh.

Jiwa kanak-kanak yang terluka bisa saja berdiam diri dalam relung hati dan terlupakan seiring waktu berjalan. Kita bisa-bisa keliru merespon suatu peristiwa yang dialami saat usia dewasa dengan respon yang bersumber dari luka masa kecil. Ketika menjadi orang tua, pribadi ini juga bisa keliru merespon kebutuhan anaknya dengan menampilkan kebutuhan inner child-nya sendiri yang belum terpenuhi.

Ketika pengasuhan yang dibutuhkan tidak diterima dari orang tua pada masa kecil, pilihannya ada pada pribadi yang mendewasa, untuk berdamai dengan kebutuhan itu atau kembali membiarkannya. Menjadi dewasa juga berarti mengasuh jiwa kanak-kanak kita.