“Sekarang ini, kalau ada teman yang berduka, aku tidak lagi memberikan kata-kata penghiburan atau penguatan, aku hanya diam dan ada di sisi temanku. Setelahnya, aku baru sampaikan bahwa ia bisa menghubungiku kapan saja jika ingin bercerita.”

Ada sebagian emosi yang kita baru benar-benar memahaminya jika sudah mengalaminya. Salah satu di antaranya adalah perasaan duka atau kehilangan. Ia yang sedang berduka ditinggal ayahnya empat bulan lalu, yang menangis sendirian hampir tiap malam atau dalam hati pada siang hari, memahami bahwa tabah dan kuat itu bisa ia tampilkan ketika mengurusi berbagai keperluan teknis pemakaman, namun dalam bulan-bulan setelahnya, giliran air mata mencari saluran dan celah keluarnya.

Mekanisme pertahanan dirilah yang membuatnya kuat pada hari dan minggu-minggu itu. Ia dan ibunya tidak pernah menangis selama merawat ayah di ICU, juga ketika menyaksikan para pelayat yang tersedu-sedu. Ia patuh mengikuti permintaan ayahnya agar jangan menangis, untuk menjadi kuat demi ibunya.

Tidak terbayangkan bahwa kemudian ibu menjadi sumber stresnya kini, dengan seringnya ibu bertanya: kapan nikah. Usianya 23 tahun, baru lulus sarjana dan kebetulan ketika mulai mencari kerja, datang pandemi yang membatasi ruang gerak. Sangat wajar bahwa isu pernikahan dan pekerjaan menjadi quarter life crisis-nya saat ini.

Resah dan menangis wajar dialami, namun berhenti sejenak dari tangisan dan menggunakan akal untuk berpikir akan dapat membantu memahami situasi dengan lebih jernih. Sampailah ia pada pemahaman, bahwa alasan ibunya meminta ia menikah agar ada orang baru hadir dalam keluarga, menggantikan bapak. Mungkinkah ibu sedang berusaha mengatasi rasa dukanya, bahwa ia membutuhkan kebaruan, kehadiran figur baru dalam keluarga, untuk membantunya mengobati kesedihan dan kehilangan? Mungkin saja. Setiap orang mempunyai cara masing-masing dalam menyikapi duka. Mungkinkah rasa cemas tersebut berubah menjadi tuntutan pada anggota keluarga? Sangat mungkin juga.

Dengan memiliki pemahaman ini, ia menyadari bahwa ia tidak sendiri dalam suasana duka. Ibunya juga resah, yang kemudian menjadi sikap reaktif atau emosional, dan muncul keluhan sakit fisik. Pemaknaannya terhadap pertanyaan kapan-menikah menjadi berbeda. Empatinya justru tumbuh. Posisi berpijaknya tidak lagi pada ‘aku’, tetapi ia mencoba memahami bahasa cinta (love language) versi ibu, dengan cara apa ibu merasa disayang, agar bisa mengurangi rasa cemas dan resahnya. Seingatnya, almarhum bapak jarang mengungkapkan sayang dengan kata-kata, melainkan dengan perbuatan menolong, mengantar, dan menemani ibu. Ia pun bertekad menyayangi ibu selayaknya bapak mencintai ibu. Dengan cara ini, ia menjalani fase dukanya hingga masa itu selesai, tidak lagi sendirian tetapi bersama ibu.

Rasa duka yang tidak bisa dianggap sama, yang hadir dalam dinamikanya sendiri-sendiri, adalah perasaan yang wajar dan sehat untuk dialami setiap kita. Terbukalah untuk berproses bersamanya.