Mendorong kebiasaan membaca adalah salah satu cara meningkatkan keterampilan literasi. Untuk membangun kebiasaan ini, dua pertanyaan yang menurut saya penting adalah “mengapa perlu membaca” dan “bagaimana seseorang akan membaca”.
pendampingan anak
Menjinakkan “Monster”
Manakala rasa aman itu terusik atau tercerabut, seseorang bisa berubah menjadi monster yang mengamuk.
Filsafat Waktu
Tergantung sama apa yang kita pikirin, apa yang kita mauin dan yang gak kita mauin, juga dengan apa yang kita persiapin di antaranya. Waktu subjektif itu ada di dalam kepala kita.
Ketika Si Kecil Menghadapi Emosinya
“Ada rasa tidak enak, ya, di dada kakak?” Ia mengangguk. “Iya, tidak apa, kakak merasa sedih dan bercampur-campur, ya.”
Estafet Pengasuhan
Katanya, kalau dari generasi terdahulu, kita sering mendapatkan kalimat-kalimat yang menjatuhkan, maka tugas kita adalah memutus kebiasaan tersebut dan menggantinya dengan kalimat yang membangun.
Anakku Pasti Berkebutuhan Khusus
Ada pula sikap orang tua yang sedemikian teguh meyakini anaknya berkebutuhan khusus. Berpegang hanya pada anggapannya sendiri, mengambil tindakan sendiri, tanpa berkonsultasi dengan ahli.
Masalah vs Kondisi
Sesungguhnya, ada perbedaan mendasar antara masalah dan kondisi. Ketika harapan tidak sejalan dengan kenyataan, di situlah muncul masalah, bukan?
Menjadi Temannya
Ada keluarga yang nyatanya tidak bisa berkomunikasi. Entah tidak bisa. Atau tidak mau. Mereka saling berdiam.
Bukankah Orang Tua adalah Orang yang Paling Mengetahui Anaknya?
Pernyataan yang beberapa kali dijadikan sebagai senjata oleh orang tua, kalau tidak sebagai tameng, untuk menjaga harga dirinya ketika menghadapi hasil atau kenyataan yang kurang sesuai dengan gambaran idealnya tentang anaknya.
Menjangkau
Pada praktiknya, manusia yang lebih dewasa dan punya lebih banyak pengetahuan soal emosi perlu menjangkau manusia-manusia muda yang masih bertumbuh. Tidak harus selalu orang tua, bisa juga guru, pembimbing, atau profesional.









