Ada pribadi-pribadi yang punya banyak mimpi, sementara pribadi lainnya tidak punya kesempatan bermimpi. Kita mungkin salah satunya. Usia produktif, usia muda, banyak rencana, banyak harapan. Apakah semua selalu bisa diwujudkan bersamaan?

Awalnya ia datang dengan pertanyaan jurusan S2 apakah yang tepat untuknya. Psikotes berdurasi 4 jam ia jalani sebelum akhirnya berkonsultasi. Saya paparkan gambaran kemampuan dan kepribadiannya. Berikutnya ia mengajukan pertanyaan inti. Apakah ia akan sanggup menjalani kuliah S2, sementara beberapa bulan lagi ia akan melangsungkan pernikahan? Seperti menghadapi arah angin yang berubah di laut lepas, saya perlu menghentikan sejenak kecepatan berpikir saya. Kegelisahannya sejak mula bukan tentang pilihan jurusan. Masalah terdekatnya saat ini adalah memilih antara menikah atau kuliah. Yang jelas-jelas, menikah sudah direncanakan dan tidak mungkin diubah. Sementara impian melanjutkan kuliah S2 juga berat dilepas. Berat, pada awalnya. Apalagi bagi ia yang sudah menetapkan mimpi ini sejak S1.

Sambil berdiam sejenak, menghentikan pelayaran, perlu kiranya kita mengukur kemampuan. Melihat kembali pengalaman masa lalu, seberapa tahan diri ini menghadapi ombang-ambing tekanan. Setiap penyesuaian diri pada situasi baru akan menimbulkan stres. Saat stres, kita bertumbuh. Pernikahan, perkuliahan, pekerjaan, kepindahan, akan menghadirkan stres. Seberapa siap diri menerima kehadiran dua stresor dalam waktu bersamaan? Kita tidak diharuskan memaksa diri, kok. Kita bisa memilih stresor yang mau dihadapi, sesuai ukuran kemampuan. Rasa-rasanya, mimpi juga bersedia diajak kompromi. Demi sehatnya pribadi, sehatnya jiwa.