Ketika seorang mengalami peristiwa yang memicu kondisi emosional tertentu, ia bisa saja meledak saat emosinya kalut dan memuncak. Setidaknya ada 3 pilihan sikap yang bisa dilakukan terhadap orang tersebut.
emosi
Itu Bukan Kesalahanmu
Barangkali kalimat ini yang ingin kita dengar. Kalimat empatik yang mampu meluruhkan emosi yang membelit. Berada dalam energi rasa malu dan rasa bersalah sangatlah memberatkan.
Keluar dari Penjara Diri
Mode bertahannya selama ini adalah imajinasinya. Di kamar yang tidak terlalu besar itu, ia menemukan tempat terluasnya. Pikirannya bisa menjadikannya diri yang baru, lewat satu kata “seandainya”.
Ketika Si Kecil Menghadapi Emosinya
“Ada rasa tidak enak, ya, di dada kakak?” Ia mengangguk. “Iya, tidak apa, kakak merasa sedih dan bercampur-campur, ya.”
Bolehkah Merasa Cemas?
Rasa cemas kerap hadir dalam kehidupan kita. Biasanya ia hadir lebih dulu sebelum sesuatu yang penting atau ditunggu-tunggu terjadi.
Mengasuh Inner Child
Ada saja luka. Yang kecil dan yang besar. Yang disadari dan tak disadari. Mungkin mulanya disadari, tapi perlindungan diri kita menyimpannya di dasar agar tak mengusik dan menyita energi sadar.
Memberi Waktu pada Kesedihan
Bagaimanapun kelekatan emosional perlu diindahkan. Artinya, kita mempunyai hak untuk berdiam sejenak, hilang dari hingar-bingar pikiran, dan menenggelamkan kepala sejenak.
Kemelut
“Seharusnya aku tidak di sini. Seharusnya aku tidak pulang. Lagipula, pulangku ini hanya ke rumah yang semu, yang di dalamnya aku tidak menemukan ayah, sementara ibu penuh dengan keluh.”
Menjangkau
Pada praktiknya, manusia yang lebih dewasa dan punya lebih banyak pengetahuan soal emosi perlu menjangkau manusia-manusia muda yang masih bertumbuh. Tidak harus selalu orang tua, bisa juga guru, pembimbing, atau profesional.
Malam Romantis
Pillow talk dan heart to heart hari itu bertemakan rindu. Sebuah konsep perasaan abstrak, yang perlu diuraikan agar si bocah memperoleh pemahaman sesuai usianya.









