Bukankah setiap kita memiliki pemaknaan tersendiri atas suatu peristiwa? Perasaan sedih, perasaan pilu, juga perasaan kehilangan –seperti perasaan senang- adalah hal-hal yang bersifat subjektif. Bagaimanapun kelekatan emosional perlu diindahkan. Artinya, kita mempunyai hak untuk berdiam sejenak, hilang dari hingar-bingar pikiran, dan menenggelamkan kepala sejenak.

Ada kalanya, rasa kehilangan menyentak sedemikian hebat, hingga tanpa sadar hal tersebut mengontrol perilaku kita. Kita menjadi mudah gusar, misalnya, lalu membentak orang lain. Pada situasi seperti ini, seringnya kita membutuhkan orang lain untuk mengingatkan kita, paling tidak untuk membawa kita kembali pada realita, melalui pertanyaan, “Kamu kenapa?”

Barangkali kesedihan yang kita alami tidak bisa terungkapkan secara gamblang melalui kata-kata. Tidak apa. Tanda tanya itu hadir sebagai jeda, agar kesedihan yang menyelimuti kita perlahan berganti dengan tanya: Apanya persisnya yang memukulku kali ini? Mengapa ingatan tentang hal itu membuatku terguncang? Wajarkah kesedihan yang mendadak ini muncul?

Lagi, dalam proses kita bercakap-cakap dengan diri kita, kita membutuhkan waktu. Sila ambil secukupnya. Matikan gawai dan aplikasi media sosial apabila hal tersebut malah meresahkan, abaikan kata-kata “jangan bersedih” apabila kita memang sedang bersedih, ambil kitab suci dan pilih ayat-ayat acak yang berbicara, pejamkan mata bebaskan penglihatan, endapkan kesedihan, serta jernihkan pikiran dan perasaan.

Terlalu banyak orang yang mengabaikan kesedihan, hanya untuk terlihat kuat dan bahagia. Lihat berapa banyak orang yang mengatakan, “Loe kuat dong! Udah, jangan sedih! Yang udah hilang, akan hilang, fokus aja sama yang ada sekarang!”, dan sebagainya. Menegasikan kesedihan hanya akan menumpuk kepedihan derita yang tak disadari.

Bersedih adalah sebuah kegiatan yang butuh kesadaran utuh. Agar setelah momen tersebut berlalu, tidak terlalu banyak ampas-ampas dari kesedihan yang melekat bersama keputusan, tindakan, dan perilaku kita. Semoga, kita tidak menjadi reaktif pada orang lain akibat marah pada kesedihan yang kita alami.

Mari ambil waktu untuk berdiam diri dan bersedih. Mari ambil waktu untuk berempati pada orang yang sedang bersedih.