Rasa cemas kerap hadir dalam kehidupan kita. Biasanya ia hadir lebih dulu sebelum sesuatu yang penting atau ditunggu-tunggu terjadi.

Cemas menjelang pendaftaran sekolah favorit, misalnya. Sekolah yang difavoritkan dalam skala nasional, oleh sebagian besar anak-anak pintar dan berprestasi, juga oleh orang tuanya.

Cemas akan masa depan juga bisa terjadi. Bahkan mungkin sering dialami. Cemas melangkah di usia yang baru. Cemas menghadapi wawancara kerja. Lebih cemas lagi karena belum satu pun lamaran kerja yang lolos.

Ada juga cemas dengan cicilan kredit yang makin naik nominalnya. Cemas juga kalau harus bertemu keluarga besar dan ditanyakan ‘kapan’, entah itu kapan punya anak, kapan nikah, kapan lulus, dsb.

Cemas bisa dibuat-buat sendiri. Yang mestinya tidak cemas, malah jadi cemas. Yang mestinya bisa ngobrol santai, malah tegang siap-siap dikritik atau disalahi.

Cemas juga bisa mendorong seseorang melakukan apa saja. Termasuk bisa saja melakukan manipulasi untuk mensiasati sesuatu, untuk menutupi sesuatu, untuk meraih sesuatu. Apalagi cemas yang dirasakan orang tua terhadap masa depan anaknya, yang membuat seorang ayah berusaha sekuat asa dan akal.

Cemas tentu adalah kondisi emosi yang wajar ketika kita menghadapi situasi yang tidak pasti, yang sebagiannya di luar kendali kita. Keberadaan emosi ini mendorong kita melakukan persiapan atau berupaya memastikan, agar timbul rasa tenang.

Kita membolehkan diri kita merasa cemas, di sisi lain, kita perlu juga memberi ruang untuk percaya.

“Percaya bahwa anak Bapak sudah melakukan persiapan yang baik. Percayalah bahwa ia mampu. Biarkan ia menikmati prosesnya, untuk mendewasa.”

Biarkan rasa percaya ini melonggarkan ketegangan urat syaraf, sehingga menghadirkan rasa tenang. Rasa tenang dan percaya justru dapat mengoptimalkan potensi diri dalam segala situasi. Rasa tenang bisa melahirkan pemikiran solutif, atau bahkan penerimaan diri.