
Bocah 5 tahun itu sudah berani menginap sendiri di rumah eyangnya selama satu minggu, sementara ayah ibunya berada di rumahnya yang cukup jauh. Ia termasuk anak yang mudah diberi pengertian dan aturan.
Pada suatu malam, gerakan bocah yang sedang menyikat giginya itu melambat. Pada detik berikutnya, gerakannya tampak berhenti. Ketika sedikit diintip dari samping, tampak air matanya menggenang lalu ia coba seka tetes air matanya.
Pillow talk dan heart to heart hari itu bertemakan rindu. Sebuah konsep perasaan abstrak, yang perlu diuraikan agar si bocah memperoleh pemahaman sesuai usianya.
“Mas, tadi Tante lihat, Mas nangis, ya. Tapi kayanya tadi nangisnya masih sedikit, deh, coba dikeluarin dulu tangisnya, ya,” ujarku menyatakan apa yang kutangkap dan juga mempersilakan buncahan rasanya dilampiaskan. Lalu menangislah dia sambil memeluk guling.
“Mas, tadi waktu video call sama Mama, Mas pengen ada di sana, ya?” Ia jawab dengan mengangguk dalam diam. “Tadi Tante juga dengar, Mas tanya Mama, ‘Mama kenapa? Kok mukanya sedih?’, tapi Mama udah jawab kalau Mama ga sedih, kok, ya, Mama baik-baik di sana.” Hening dulu untuk beberapa saat.
“Mas kalau ada di sana, Mas mau ngapain?”
“Mau nemenin mama nonton televisi, biar mama ga sendiri” jawabnya, karena begitulah rutinitasnya hampir setiap malam.
“Iya, ya, tapi hari ini Mas ga bisa temenin Mama, makanya Mas rasa sedih. Mas udah biasa jagain Mama, sih, ya. Mas kangen juga, ya, sama Mama.” Tangisnya tiba-tiba muncul lagi. “Gapapa, Mas, kalau sedih, kan kita boleh nangis.”
“Oiya, Mas, ini kan baru pertama kali lagi Mas ke sini. Selama 2 bulan kemarin, Mas setiap hari selalu sama Mama Papa. Kalau sekarang merasa ada yang beda, itu gapapa, kok,” jelasku perlahan agar ia tahu ada yang berbeda dari rutinitasnya. “Nah, meskipun Mas hari ini ga bisa temenin Mama, kira-kira siapa, ya, yang bisa temenin Mama?”
“Papa, tapi Papa tadi lagi main game…” jawabnya.
“Iya, ya, ada Papa, ya. Malam ini, berarti Papa yaa yang jagain Mama. Papa main game cuma sebentar, kok, nanti setelah main, Papa nemenin Mama,” yang disambut dengan anggukannya.
Seiring dengan pemahaman baru, campuran emosinya mereda. Pembicaraan jelang tidur itu berlanjut dengan memutar ulang peristiwa yang menyenangkan hari itu.
*
Anak yang cerdas emosi menjadi dambaan setiap orang. Anak perlu punya wadah yang setara untuk menampung emosi dan perasaan dirinya. Terlebih pada anak yang berempati tinggi, agar ia tidak merasa terbeban memahani orang lain, sementara kewalahan mengolah emosinya sendiri. Agar kelak anak bisa memahami orang lain dengan baik, ia perlu dipahami terlebih dahulu, dan bersamaan dengan itu, bersama-sama memahami sesuatu.
Sebagai orang yang lebih dewasa, kita bisa berperan mendampingi anak dalam menghadapi perasaan-perasaan yang dialami setiap hari. Kita perlu peka dengan perilaku anak, membuka dialog terbuka dengan intensi menerima dirinya, memberikan tempat pada perasaannya, dan memvalidasi perasaannya -tidak serta merta membenarkan, tetapi mengolah sebab akibat dan kemungkinan-kemungkinan.