Usianya 3,5 tahun. Hampir semua yang pernah mengenalnya sepakat bahwa ia anak yang super ceria dan energik, dengan suaranya yang nyaring. Saat kami bermain bersama, ia berinisiatif ingin memetik bunga di depan rumah tetangga sebelah. Ia meluncur dengan skuternya, lalu memetik satu bunga lantana kuning. Saya sarankan agar ia berterima kasih kepada Oma pemilik tanaman tersebut, yang kebetulan sedang duduk di teras. Entah apa sebabnya, ia berkeras diam.

Segala jurus persuasi saya coba untuk membuatnya mengucapkan kata “terima kasih”. Saya tanyakan alasan penolakannya tetapi ia tetap diam. Setelah semua cara saya coba, termasuk menunjukkan contoh riil karena kebetulan neneknya meminta tanaman sirih milik Oma tersebut dan mengucapkan terima kasih dengan ringan hati, ia tetap menekuk wajahnya.

Sepintas tampak roman ingin menangis pada wajahnya, yang sebisa mungkin ia tahan.

Untuk usianya yang masih balita, tentu ada pertanyaan dilematis mengenai haruskah saya memintanya melakukannya, atau biarkan saja dan maklumi saja bahwa ia tidak mau mengucapkan kata “terima kasih”. Tetapi justru, kekerasan hatinyalah yang membuat saya tidak bisa menyerah. Ia sangat keras hati menolak, bukan karena ia belum paham dan belum bisa -karena ia bisa mengucapkannya pada waktu-waktu yang lalu-, tetapi kali ini semata tidak mau.

Dari segi tahapan psikososial, anak pada usia 3 hingga 5 tahun sedang mengembangkan inisiatif. Ketika berinisiatif, terbentang dua konsekuensi: apakah ia dipuji dan hal ini menumbuhkan perasaan baik terhadap dirinya; atau di sisi lain, ia ditegur kemudian merasa bersalah atau merasa buruk. Anak perlu mengalami keduanya secara seimbang. Dari sini ia akan memahami batasan dirinya -termasuk norma bermasyarakat- dan pemahaman diri ini kelak memberinya keberanian untuk mengeksplor dunianya. 

Sambil memegang skuternya, ia masih diam mematung. Tentu ada temperamen khas pribadinya yang mendasari sikap kerasnya. Saya hitung sampai lima, dan jika ia tetap menolak, maka saya yang akan mewakilinya menyampaikan terima kasih kepada Oma. Sampai hitungan kelima, ia masih bergeming. Saya bangkit dan beranjak, menyampaikan terima kasih kepada Oma.

Anak ini tetap diam, tak menoleh kepada saya. Saat ditanya, ia katakan masih ingin bermain di luar dan menyarankan saya agar duluan masuk ke rumah. Saya duduk di garasi sambil mengawasinya. Selewat beberapa detik, saya hampiri ia yang tetap tegak berdiri.

“Ada rasa tidak enak, ya, di dada kakak?” Ia mengangguk.

“Iya, tidak apa, kakak merasa sedih dan bercampur-campur, ya. Maaf, ya, bikin kakak merasa tak enak. Tadi kakak belum mau bilang terima kasih, tidak apa-apa. Karena masih ada rasa gengsi, ya. Jadinya sudah saya sampaikan ucapan terima kasihnya kepada Oma. Saya juga sudah memaafkan kakak. Tadi itu jadi pelajaran, ya. Saya sayang kakak, kok.” “Mau saya gendong?”

Dalam gendongan, pipinya menempel di bahu saya, matanya memandang ke samping. Jantung kami berdekatan. Nafasnya bergemuruh, ia menangis dalam diam. Kubisikkan lagi, saya sayang kakak.

Memvalidasi emosi dimulai pertama-tama dengan mengenali rasa fisik yang dialami. Sensasi tubuh yang tak nyaman, getaran yang tak biasa. Sejak dini, seorang anak bisa diajak mengenali reaksi tubuhnya.

Selama satu menit digendong, saya tanyakan hal-hal lain di luar topik yang tadi. Ia mau menjawab dengan suara yang serak. Kemudian saya ajak ia memilih mainan untuk dibawa saat liburan, dan dalam beberapa detik matanya kembali cerah, suaranya kembali riang.