“Kalau kau tutup matamu, apa yang kaulihat?”

Semestinya tidak ada yang bisa dilihat, karena indera penglihatan ditutup, tidak bisa menangkap cahaya. Tetapi yang sering terjadi, ia bisa menyebutkan banyak yang ia lihat. Reaksi ibunya ketika menolak masakan buatannya. Teman-teman dekat yang melambaikan tangan sebelum menginjak eksalator di bandara sebulan lalu. Pesan singkat kepada kekasih dua hari lalu yang tidak juga centang dua. Perabot di ruang konsultasi yang masih menetap di ingatannya saat ini.

Semua ingatan dan pikiran bisa berseliweran di depan mata yang tertutup.

Kemarahan dan kepahitan masa lalu bisa muncul secepat kilat kendati mata sedang menatap pepohonan yang rindang di tepi jalan.

Ia melihat pikirannya dan tidak melihat yang nyata di hadapan. Ia mengatakan dirinya overthinking. Ya, bisa jadi. Berpikir secara berlebihan. Overthinking seringkali menarik ia dari realita. Tidak mendengar yang diucapkan orang -apalagi musik di latar belakang-, tidak merasakan permukaan yang disentuh, tidak mencecap makanan yang dikunyah.

Semakin jauh dari realita, semakin ia khawatir. Cemas karena tidak menjejak. Ingin dijangkau tetapi sulit dijangkau.

Beruntung bahwa tubuh manusia tidak hanya berisi pikiran. Ada rasa, dan raga, dan indera. Ada rasa tidak nyaman yang menyentil kesadaran manusia untuk segera keluar dan berpindah dari zona ketidaknyamanan. Ada organ tubuh yang menderita kelelahan karena dibebani pikiran. Ada indera yang memanggil-manggil kesadaran agar merespon stimulus yang tertangkap mata, telinga, kulit, lidah, dan hidung. Para pakar menyebutnya mindful, penuh perhatian, penuh kesadaran. Para ahli menyatakan, mindfulness bisa menyelamatkan kesehatan mental seseorang.

Jadi, kalau kaubuka matamu, apa yang sedang kaulihat?

Kalau kauraba permukaannya, apa yang kaurasa?

Apa yang saat ini kaudengar?

Apa yang kau hirup dan cecap?