Pandangan tentang kesempurnaan hampir selalu memunculkan rasa cemas pada diri siapa saja yang menjunjungnya. Meskipun tidak setiap orang tua menginginkan anaknya sempurna, tetapi ada standar yang umumnya dianut. Misalnya, tampilan atau perilaku terbagi antara yang diterima dan kurang diterima, antara disukai dan kurang disukai. Tampilan atau perilaku yang berbeda dibandingkan dengan orang kebanyakan dirasa sebagai suatu kekurangan.

“Saya tahu ia memiliki keterbatasan dalam hal berbicara. Ucapannya cadel, tidak jelas. Kalimatnya terlalu baku, dan ia bicara tanpa dipikir dulu. Saya khawatir apakah nanti ia bisa berteman saat kuliah. Apakah ia perlu terapi, meski mungkin ini sudah terlambat.”

Saat mengobrol dengan calon mahasiswa ini, nyatanya saya bisa memahami semua yang ia katakan. Artikulasinya yang kurang jelas karena ia tidak bisa mengucapkan huruf ‘r’, malah tidak dirasa sebagai hambatan. Hanya sesekali saya perlu memastikan kata yang didengar. Selebihnya, kami terlibat dalam percakapan yang sangat nyambung dan interaktif.

Dalam obrolan itu, pribadinya yang santun, peka dalam merespon, sikap antusiasnya, dan kepedulian yang tertangkap dari cerita-ceritanya, justru lebih berkesan dibandingkan suara cadelnya. Saya percaya, orang lain yang baru pertama kali berbicara dengannya pun hanya butuh beberapa waktu saja untuk menjadi terbiasa mendengar suaranya dan terlibat dalam obrolan.

Kekhawatiran perihal komunikasi dan berteman juga ia utarakan, namun sesungguhnya ia pernah punya pengalaman berhasil menjalin pertemanan sewaktu SMP. Pengalaman itu dan pemahamannya tentang cara berteman, sesungguhnya sudah cukup menjadi bekalnya untuk mencari kawan baru di kampus.

Dukungan yang berikutnya ia butuhkan adalah rasa percaya dari kedua orang tuanya. Rasa percaya bahwa ia memiliki banyak kelebihan dibandingkan kekurangan yang menjadi sumber kekhawatiran orang tuanya. Rasa percaya bahwa ia sudah memiliki bekal yang cukup untuk bersosialisasi di luar rumah, untuk menggunakan transportasi umum, berkunjung ke museum, berbelanja sendiri, dan sebagainya.

Tentu rasa percaya tidak digelontorkan begitu saja, karena membangun rasa percaya pada diri orang tua membutuhkan tahapan. Begitu pula tahapan dibutuhkan oleh anak. Maka orang tua bisa memberikan satu dua kali pendampingan dengan memberikan tuntunan caranya, kemudian membiarkan anak melakukan sendiri dengan ditemani saja tanpa memandu, dan berikutnya membiarkan anak melakukan sendiri tanpa dipandu ataupun ditemani.

Rasa percaya diri anak bermula dari rasa percaya orang tua kepada anaknya.

Tampilan diri anak yang berbeda dari orang kebanyakan biarlah menjadi keunikan dirinya. Diterima sebagai bagian diri otentiknya, berpadu dengan hal-hal baik yang sudah dimiliki sang anak.