
Merasa tidak ajeg, tidak mantap, atau sebutan populernya tidak firm, sangat tidak enak. Membawa-bawa keraguan terhadap diri sendiri. Sungkan, tidak enakan pada orang lain. Lebih tidak enak kalau profesi yang dijalani merupakan figur yang diharapkan masyarakat sebagai orang yang berprinsip, tegas, berani, dan dijadikan acuan atau sumber ilmu. Salah satunya, guru.
Di mata siswa, guru adalah panutan, orang hebat, paling tahu, pemegang kebenaran, bijaksana. Bagaimana kalau ternyata seorang guru tidak lebih tahu dibanding siswa jeniusnya? Biasanya selalu ada kelompok siswa yang menambahkan deskripsi guru sebagai orang dewasa yang seru, gaul/update, keren. Bagaimana kalau ternyata ada guru yang tidak seaktif itu mengikuti perkembangan media sosial dan kabar netizen, karena waktunya sudah terbagi untuk peran-peran hariannya? Ada juga yang menginginkan gurunya sebagai hakim yang adil, menegakkan aturan kelas, serta bisa jadi tempat curhat. Bagaimana jika seorang guru pada usia dewasanya masih berproses mengelola emosinya sendiri?
Kondisi-kondisi ini sangat mungkin menambah penilaian diri yang bukannya mendukung kepercayaan diri, malah melemahkan. Belum lagi ekspektasi dari sisi orang tua siswa yang tak kalah panjang daftarnya. Yang seringkali bikin guru berhati-hati. Karena orang tua siswa bisa selantang jaksa penuntut atau serinci hakim penyelidik.
Wajar merasa stres, kalau mau memenuhi semua ekspektasi. Stres tidak selalu buruk, stres itu baik juga ketika mendorong pertumbuhan diri. Pertanyaan berikutnya, seberapa banyak gambaran ideal yang mau dipenuhi? Semuanya? Kalau iya semuanya, wajar seseorang menjadi tidak ajeg dengan dirinya. Yang sedikit saja bisa membuat diri tidak ajeg ketika hal itu bertentangan dengan jati diri. Seseorang bisa menjadi penuh ragu ketika ada banyak standar yang mau dipenuhi, ketika ia sendiri belum mengenal benar-benar dirinya.
Baiklah kiranya para guru mengingat figur guru kesayangannya semasa kanak-kanak dan remajanya. Guru yang mantap menjejak dengan satu karakter kuat: guru killer, guru lembut, guru jago banget, guru humoris, guru rapih, dan sebagainya. Satu yang kuat, yang adalah jati dirinya, itulah yang terpancar dan menjadi referensi karakter bagi anak didiknya. Bisa jadi lebih dari satu karakter, tapi tertampil utuh dan ajeg menjadi pribadi guru tersebut.
Baiklah kiranya para guru mengambil karakter petani atau pemahat yang memandang hasilnya untuk jangka panjang. Barangkali selama proses memahat, belum tampak wujud bentuknya, tapi pemahat tahu ia mesti konsisten dan terus-menerus, hingga hasilnya nanti terlihat. Barangkali satu yang terus-menerus ditanamkan hanya perihal ketelitian, tapi guru tahu tujuan jangka panjangnya, belasan tahun lagi anak didiknya menjadi orang dewasa yang cermat. Satu yang lain lagi bisa jadi logika, bisa jadi karakter jujur, bisa jadi kesopanan, bisa pula sikap rendah hati.
Seorang guru mungkin tidak lebih up to date dibanding siswanya, tidak lebih cepat berhitung dibanding siswanya, tidak selalu bijak mengambil keputusan, punya pandangan yang berbeda dengan orang tua siswa, tetapi dengan berpegang pada satu karakter kuat diri ia akan berdiri tegak seperti pohon yang teguh. Perasaan aman yang muncul dari diri yang ajeg akan memancarkan rasa aman juga pada siswa untuk bernaung.