Persinggungan dengan cerita-cerita orang mungkin bisa dibayangkan sebagai percik-percik inspirasi seperti di film pendek “Who are You” di akun The Gift, monggo bisa dinikmati di Youtube. Pertanyaan siapa aku, kemudian siapa dia, dan siapa mereka/kita. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang merajut jawaban.

Seperti perjumpaan kemarin.

“Tulisan-tulisanmu adalah tulisan yang jujur, meski sebisa mungkin ditutup-tutupi.” Ia mengangguk dalam. Iya, itu aku, ujar sorot matanya.

“Tidakkah itu cukup?” Ia diam. Barangkali jawabannya tidak. Aku merindukan suatu masa ketika seluruhku, pemikiran dan perasaan, bisa kutampilkan dalam sebuah kepastian. Itulah jujur. Termasuk luka-lukaku, termasuk aib-aibku. Tapi tentu saja hal itu adalah sesuatu yang bodoh dan tidak mungkin. Suatu hari, seorang kawan pernah menawariku untuk menerbitkan tulisan-tulisanku di salah satu penerbit indie. “Tulisanmu bagus,” katanya. “Hehe, makasih, Mas” jawabku. Tentu saja tawaran itu aku tolak. Bagaimana kalau keluarga besarku tahu apa seluruh isi kepala dan hatiku.

“Apa yang kamu rasakan ketika menuangkan perasaanmu, dirajut sedemikian indah melalui kata-kata?” Sejujurnya, aku melihat kata-kata itu beterbangan di kepalaku. Itu hanya terjadi ketika aku sedang sedih atau marah atau merasa buruk. Aku tidak tahu keindahan semacam apa yang akan terbentuk, dan aku tidak peduli. Aku hanya merasa bebas.

“Aku seperti membaca tulisanku.” Ia menolehkan kepalanya. “Terima kasih, ya, telah memantik kembali percik-percik inspirasi, meskipun itu datang dari kegetiran dan kengerian hidup.” Ia terdiam.

“Sejak dulu aku menginginkan bisa menjadi pribadi yang tampil jujur 100% di hadapan semua orang. Seperti para seniman dan orang-orang besar yang menjadi panutanku. Tapi rasanya itu tidak mungkin.” Well, tidak mungkin. “Tetapi paling tidak, saat menulis, aku menghadirkan aku yang 100% di hadapanku, tidak dilebih-lebihkan atau dikurang-kurangkan, karena begitu saja. Tidakkah itu cukup? Jawabannya tidak serta-merta kuperoleh saat itu juga, tetapi lalu perjalanan merangkaikan jawabannya untukku: cukup.”

“Kemudian, dalam perjalanan karirku sebagai seorang pendengar, ternyata aku mampu menjadi wujud yang 100% juga. Jujur menangkap rasa, jujur mengungkap rasa. Kemudian dari sana, aku menjumpai banyak kisah yang akan terus abadi. Kisah-kisah luka yang membuat seseorang sedemikian membenci dirinya, kisah perundungan yang sempat membuat hari-hari mendung, kisah pencampakkan, kisah pencarian arah. Kisah-kisah yang perlu tetap ada, selama tidak dilupakan. Kisah-kisah yang mendewasakan kita, yang entah pada sebuah titik, setiap orang akan mampu memaknakannya secara berbeda.” Kalau dalam satu kesempatan hidupku, aku bisa dua kali menjadi jujur, bukankah itu berarti aku telah melampaui hidup? Satu-satunya orang yang memerlukan kejujuran adalah diriku sendiri. Membagikan secuplik perjalanan hidup, menyampaikan selayang pandang, dan berbagi kebijaksanaan, adalah sebuah anugerah. Terima kasih, ya, sudah mau mendengar dan membaca kata-kata yang membahagiakan ini.