Bocah laki-laki itu keluar dari ruangan dengan menenteng tas kecilnya yang berisi buku tulis, alat tulis, dan botol minum. Di dalam buku tulisnya, tertera tulisan tangannya: “Tulis 5 kata yang diawali oleh masing-masing alfabet.”

Seminggu kemudian, ia datang kembali dengan pekerjaan rumah yang dikerjakan. Pada setiap abjad, mulai dari A hingga Z, tertera di bawahnya beberapa kata yang ia temukan. Ketika ditanyakan arti dari setiap kata yang ia tulis, terkadang ia masih sulit menyebutkan artinya tetapi cukup bisa menjelaskan maksudnya. Ketika pulang, catatan di buku tulisnya: “Tambahkan 5 kata untuk setiap alfabet.”

Pada pertemuan berikutnya, disajikan padanya sebuah bacaan bergambar. Padanya diingatkan tentang sebuah aturan main: “Baca pelan-pelan dan bayangkan setiap katanya. Apabila ada kata yang tidak dimengerti, atau kalimat yang tidak bisa dibayangkan, tanyakan saja, ya.” Dan meluncurlah beberapa pertanyaan tentang arti kata atau maksud kalimat, meski awalnya masih ragu untuk bertanya. Adanya gambar membantu untuk memberikan penjelasan terhadap konteks pada tulisan.

Setelah terbiasa dan tampak nyaman dengan pola baru “bertanya ketika tidak mengerti atau bertanya ketika tidak terbayang”, ia mulai beralih pada persoalan bacaan yang lebih kompleks. Bacaan terdiri dari 1 paragraf panjang, tanpa gambar. Dengan aturan baca yang sama: “Baca pelan-pelan dan bayangkan setiap katanya. Apabila ada kata yang tidak dimengerti, atau kalimat yang tidak bisa dibayangkan, tanyakan saja, ya.”

Ketika anak mulai percaya diri, persoalan bacaan yang diberikan semakin kompleks, yaitu 5 paragraf pendek tanpa gambar dengan konten yang cukup berbobot. Aturan baca tidak berubah: “Baca pelan-pelan dan bayangkan setiap katanya. Apabila ada kata yang tidak dimengerti, atau kalimat yang tidak bisa dibayangkan, tanyakan saja, ya.” Tanyanya, “Apa itu maritim? Apa itu navigasi? Apa itu migrasi? Apa itu diorama?” Kalau sudah mendapatkan jawaban dan terbayang, barulah ia melanjutkan membaca. Demikian pola yang berulang hingga ia berhasil menuntaskan satu bacaan liputan mengenai museum maritim.

“Seru, ya, ternyata membaca itu. Aku kalau di sekolah, di perpustakaan, emang milihnya buku-buku yang ada gambarnya aja, jadi ga perlu aku baca. Tapi sekarang udah bisa ngebayangin sendiri, jadi seru,” ujarnya beberapa saat setelah menuntaskan bacaan. Selain tuntas, ia juga mampu menjawab beberapa pertanyaan seputar isi bacaan tersebut.

Hal paling mendasar dalam membangun pemahaman literasi yang tepat adalah kosakata. Perlahan tapi pasti, kita bisa turut telibat memperkaya koleksinya, seperti pengenalan objek (kata benda), aktivitas (kata kerja), dan kata sifat. Anak sejatinya adalah pengumpul kata-kata. Melalui imajinasi dan perangkat inderawinya, anak perlahan membangun konsep.