Pada suatu pagi, “Rambut kamu jelek!” kata beberapa teman dari sambungan video saat pembelajaran jarak jauh. “Rambut aku ga jelek. Ini keren! Ini ‘kan kayak rambutnya Dwane Wade!” belanya dengan ringan. Ia merasa cukup mampu menanggapi celotehan teman sekelasnya.

Namun pada suatu sore yang lain di gang depan rumahnya, “Kamu gak usah ikutan main bola, deh. Kamu ‘kan pendek!” Sore itu dia masuk ke dalam rumah dan menangis, barangkali merasa sedih dan bertanya-tanya. Di rumah, ibu meredakan emosinya dan ayah memberi komentar yang menguatkan. Keesokan harinya ia berdiri di depan rumah, melihat teman-temannya bermain bola, dan menerima ajakan teman-teman untuk bergabung.

Usianya baru 5 tahun.

Usia yang terlalu belia untuk mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan, atau usia yang cukup untuk menghadapi kerasnya dunia?

Peran orang tua menjadi kunci. Orang tuanya sadar benar bahwa dunia anak meluas ketika ia keluar dari rumah. Saat bertetangga dan bersekolah itulah anak akan menjumpai banyak tantangan dengan beragam tingkat kesulitan. Tantangan yang bergesekan lembut saja atau tantangan yang berbenturan dengan keras. Apapun jenis tantangannya, orang tua punya pilihan untuk melihat sebuah peristiwa sebagai kejadian yang wajar apabila menimbulkan perasaan tidak nyaman, sakit hati, dan sedikit tertekan. Pertanyaan berikutnya, mau diapakan perasaan tidak nyaman ini, apakah diabaikan atau dianggap nyata?

Perasaan tidak nyaman yang kemudian diakui dapat disiasati dengan menanamkan nilai sikap resilien. Pada anak usia 5 tahun yang berpikir dengan cara-cara konkrit, orang tua dapat menyuntikkan role model yang sesuai dengan kesukaan anak dan memberi tahu fakta kemampuan yang sudah baik dari anak. Di belakang layar, orang tua dengan rendah hati menyadari bahwa potongan rambut si anak memang membuat tampilannya lebih lugu. Namun, dengan menyodorkan pemain basket yang jago membuat anak berpikir bahwa rambutnya sama dengan rambut pemain basket tersebut. Di belakang layar juga, orang tua memberikan penilaian bahwa pendek tidak berarti lemah. Ada ragam karakter kuat yang melekat pada si anak, seperti pintar berhitung, cepat membaca, rajin belajar, kreatif, dll.

Uji ketahanan adalah dengan benturan. Benturan tentu tidak menyamankan, benturan tentu menyakitkan, benturan juga akan memberi tekanan. Orang tua perlu siap juga menyaksikan benturan demi benturan yang dialami anak. Faktanya, orang tua yang lebih siap akan merasa berdaya untuk menyiapkan anaknya. Anak yang tahan banting bukanlah anak yang terus menerus dilindungi oleh tembok dan pagar orang tua, melainkan anak yang didampingi dengan telaten untuk menumbuhkan tamengnya sendiri.