
Setiap hari satu artikel. Bebas, mau pilih artikel panjang atau pendek. Kalau sudah selesai, tunjukkan pada Ayah, ya.
Dari sejak menyalin dengan tulisan tangan hingga menyalin dengan mengetiknya di komputer, dua kakak-beradik ini patuh melakukan tugas dari ayahnya. Berapa lama, ya, itu? Kira-kira sejak si adik SD hingga kini kelas 3 SMP. Biasanya baik kakak maupun adik memilih artikel yang pendek-pendek saja, pastinya dengan alasan agar cepat selesai. Tidak menjadi soal bagi ayah ataupun ibunya, yang penting mereka mengerjakan tugas ini. Kadangkala mereka kebagian juga artikel panjang, apabila melakukan suatu kelalaian di rumah, misalnya bermain video game melebihi batas waktu, maka menyalin artikel panjang menjadi hukumannya.
Menyesuaikan dengan usia anak-anaknya yang kini remaja, ayah yang adalah seorang desainer grafis, memberikan variasi pada tugasnya. Tidak hanya menyalin artikel, tetapi anak-anaknya diminta mencari foto atau gambar dari google images yang bisa mendukung narasi artikel.
Barangkali kita menerka-nerka, apakah sang ayah ingin mewariskan keahliannya pada kedua anaknya. Barangkali ada suatu maksud untuk melestarikan nilai budaya kepada anak-anaknya dengan tetap memperkenalkan koran atau surat kabar cetak yang kian hari jarang ditemui di rumah-rumah. Banyak orang beralih ke koran digital, media elektronik, media sosial, atau tidak mengikuti berita. Ya, kita hanya menerka, tanpa tahu alasan sebenarnya. Maka kali ini saya tidak mau menerka, saya ingin melihatnya saja dari kacamata psikologi.
Kegiatan menyalin dengan tulisan tangan di tengah tren bermain online game, ber-gadget ria, dan menonton drama/kehidupan artis idola di kalangan anak dan remaja, merupakan terobosan kreatif dari seorang ayah. Kegiatan menyalin dengan tulisan tangan melibatkan banyak aspek tumbuh-kembang anak, di antaranya keluwesan motorik halus –terbukti dengan tulisan tangan mereka, yang perempuan dan laki-laki, tergolong rapih-; kemampuan bahasa semakin kaya dengan terpaparnya banyak kosakata baru; kemampuan konsentrasi yang dicurahkan selama menyalin hingga selesai; dan kemampuan nalar serta imajinasi. Belum lagi kalau sambil menyalin, anak turut membaca dan menangkap kesimpulan dari bacaan, logika dan kemampuan berpikir sintesisnya ikut terasah. Belum lagi kalau topik artikel menjadi bahan diskusi di dalam keluarga. Wah, lengkap, deh, stimulasinya!
Begitu pula dengan kegiatan membuat layout tulisan disertai gambar visual. Bukankah keterampilan menggunakan komputer, visual editing, dan citarasa seni, merupakan kemampuan yang makin dirasa kebutuhannya pada dunia kerja di era teknologi informasi ini? Bahkan tugas-tugas perkuliahan saja membutuhkan keterampilan menyajikan informasi secara visual.
Barangkali hasilnya tidak dirasakan instan pada tahun-tahun sekarang, tetapi yang namanya latihan, pasti membentuk sesuatu pada diri seseorang. Pasti ada karakter yang juga terasah pada diri kakak-beradik ini, baik itu kesabaran, ketekunan, motivasi, dan regulasi diri selama mengerjakan tugas ini bertahun-tahun. Mungkin ada masa-masa anak merasa bosan, tetapi kemudian diberi suntikan semangat oleh ayah ibunya. Atau masa-masa anak merasa bangga mendapat apresiasi dari ayah ibunya. Yang jelas, semuanya itu membentuk kekayaan pribadi mereka.