Dia yang tahu bagaimana mengendalikan diri adalah seniman atas dirinya sendiri. Apabila setiap temuan tentang diri dibayangkan seperti satu warna, maka penuhilah kanvas diri dengan warna-warnanya. Apabila setiap temuan tentang diri dibayangkan seperti satu nada, maka penuhilah partitur diri dengan alunannya.

Pekerja yang sehari-hari terbiasa berkeliaran di kafe atau mall tengah kota itu kini hanya berdiam diri saja di kamar kos-kosannya. Ruangan yang sunyi sekali, dengan dinding yang sepi dekorasi. Pandemilah yang menyeretnya ke dalam saja. Teman-teman bersosialisasinya, teman-teman kantornya, klien-kliennya, sahabat minum-minumnya, tidak bisa ia jumpai secara langsung. Dulu, di dalam keramaian itu, keresahan tidak mendapat tempat di pikirannya. Namun, dengan situasi ini, lama-kelamaan, sepi membunuh.

Satu-dua minggu masih bisa ia jaga tingkat kewarasannya. Memasuki minggu keempat, rasa lelah mulai menggerogotinya. Kebosanan seolah memutus sumber keseruan hidupnya. Ia tidak terlalu perduli lagi dengan penampilan dirinya. Ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan merebah dan memainkan gawainya. Ia pun memutus kontak dengan para sahabat yang sebenarnya masih rutin menayakan kabar. Menjadi pribadi yang rendah energi

“Aku mesti bagaimana?” tanyanya. Berhenti mendiamkan diri. Lakukan sesuatu.

Hari-hari selanjutnya ia mencoba beberapa hal yang memang mau ia lakukan seperti menyulam, menggambar doodle, dan mewarnai buku. Dengan catatan, ia melakukannya dengan penuh kesadaran. Rasakan setiap gerak jari, aktifkan semua indera saat sedang bekerja, dan kenali apa yang dialami, dipikirkan, dan dirasakan.

Seminggu kemudian, ia hadir dengan energi yang terbarukan. Ia mengakui sangat menikmati melakukan kegiatan-kegiatan tersebut. Ia menyadari bahwa betapa pikirannya gemar berloncatan dan imajinasinya sering bercerita lebih jauh dari kenyataan. Ia juga menyadari bahwa ternyata ia cukup mampu mengerem diri dan memacu diri dengan capaian-capaian kecil saja dulu. Hal ini mendorongnya untuk melakukan aktivitas itu di hari-hari selanjutnya.

Pengetahuan-pengetahuan kecil tentang diri yang membuatnya tersadar. Atau, kesadaran-kesadaran kecil yang berbuah pengetahuan tentang diri. Pengetahuan dan kesadaran yang membuat perasaan “terpenuhi”. Kita punya kendali, termasuk untuk menentukan keseruan hidup yang mau kita nikmati. Dalam hening dan jauh dari keramaian, coba tengok dan masuk ke dalam diri. Kenali siapa kita, kenali bagaimana kita. Ada banyak hal seru dari belasan dan puluhan tahun hidup kita. Keseruan yang perlu kita hidupkan terus.