“Buat Papi, kamu gak sekolah tinggi pun gak apa. Asal kamu bahagia dalam menjalani hidupmu, dan paling tidak, kamu punya satu skill yang bisa dipakai dalam keseharian kerjamu,” ujarnya kepada putranya yang duduk di hadapannya. “Kalau kamu memang bisa menggambar, menggambarlah hingga setiap orang yang berjumpa denganmu punya pandangan serupa, bahwa ‘Oh, ya, orang ini memang bisa menggambar.”

Perawakannya yang tinggi besar berbanding terbalik dengan putra remajanya yang kurus kecil. Melihatnya akan mengingatkan kita pada sosok sinterklas, yang sebaik itu! Lelaki paruh baya yang sudah menghabiskan separuh hidupnya sebagai dokter spesialis penyakit dalam itu hadir di ruangan dengan pengenalan, kesiapan, dan penerimaan yang begitu besar terhadap putranya. Maka, tidaklah ia terkejut dengan hasil pemeriksaan yang diterima, bahwa bidang diploma lebih sesuai bagi putranya, bidang seni sejalan dengan cita rasa keindahan yang dimiliki putranya, juga catatan bagi putranya untuk menggeber daya tahan kerjanya apabila ia hendak mengembangkan diri di jurusan seni.

Begitu sederhana dan mendalam.

Seperti dua kaki yang melangkah, satu kaki membawa suatu keterampilan dan sebelahnya membawa kebahagiaan. Menguatkan satu kaki dengan membangun fondasi dasar belajar yang kokoh dan menguatkan kaki satunya dengan penerimaan. Tidak serta-merta mudah memang, tetapi dengan kedua itu mudah-mudahan jalan akan ditapaki dengan baik dan bermakna.