
Tidak bisa bertemu orang baru, tidak mau ke tempat-tempat baru. Reaksinya menangis histeris, sangat takut. Lebih sulitnya lagi, ia belum bisa berkata-kata pada usianya yang sudah 6 tahun. Ia belum bisa ucapkan apa yang membuatnya takut dan orang lain tidak bisa mengetahui apa alasan ketakutannya, kecuali dengan menanyakannya satu persatu: Kamu tidak mau di sini? Kamu mau pulang? Kamu mau ke luar?
Menebak-nebak.
Untuk semua perilakunya, orang tua menebak-nebak dan menjadi terlatih menebak dengan jitu. Mendengarnya mengucapkan suku kata “ru”, mama papanya sudah tahu bahwa itu artinya ia melihat mobil biru, yang adalah taksi Blue Bird. Kalau ia tidak menyukai makanan yang disediakan kemudian menggambar huruf âKâ di handphone dengan jarinya, itu artinya ia mau KFC. Kalau ia menutup mulutnya dengan tangan, artinya ia pasti akan muntah sebentar lagi.
Untuk banyak hal, ia takut dan tak nyaman. Hipersensitif sekaligus hiposensitif. Ia menolak disentuh atau bersentuhan dengan orang lain selain ibunya. Ia juga tidak menyadari aroma, termasuk bau pup, maaf, yang menyengat. Perlu waktu lama hingga ia nyaman duduk di kelas taman kanak-kanaknya. Tempat amannya hanyalah kamar ibunya, mobil, dan playground di mal. Selain tempat-tempat yang familiar itu, ia akan menangis berjam-jam.
Setiap kali ia merasa tidak aman, refleks-menarik-diri mengambil alih. Ya, fear paralysis reflex (FPR), ketakutan yang melumpuhkan sistem tubuh. Refleks primitif yang muncul pada masa kandungan, yang idealnya selesai saat masa kelahiran. Akan tetapi pada anak ini, FPR masih aktif hingga usianya saat ini.
FPR yang masih aktif menghambat perkembangan sistem saraf, baik itu perkembangan gerak refleks berikutnya, kemampuan sensorinya, motoriknya, emosi, maupun kemampuan berbahasa, yang kemudian menghambat perilaku, kemandirian, sosialisasi, dan kemampuan belajar akademisnya. Ia reaktif terhadap stimulasi sensoris dan merasakan bahaya di banyak hal yang tidak membahayakan. Padahal, agar seorang anak dapat menjelajahi dunia dan akhirnya menjadi mandiri, ia perlu merasa aman.
Terapi sensori, terapi wicara, ataupun terapi okupasi belum efektif diberikan kepadanya, karena ia hanya akan menangis meronta-ronta jika bersama orang lain yang bukan ibunya. Terapi yang diperkirakan bisa membantunya saat ini adalah Rhythmic Movement Training (RMT) untuk mengintegrasikan refleksnya. Ibunyalah yang menjadi terapisnya, untuk sementara waktu, hingga pada akhirnya ia bisa merasa aman berinteraksi dengan orang lain.