Usia 16 tahun, punya banyak minat yang menjadi kandidat untuk jurusan kuliahnya kelak. Desain, arsitektur, lingkungan hidup, kedokteran gigi, dan psikologi. Seberagam juga dengan pilihan seorang remaja 17 tahun lalu: arsitektur, gizi, desain produk, psikologi, dan kedokteran.

Menurutnya belum ada yang benar-benar bulat menjadi pilihan tetapnya. Semua masih berubah-ubah dan belum seratus persen. Ada saja pemberat-pemberatnya, misalnya bidangnya disuka tetapi gajinya kecil, pekerjaannya dibayar mahal tetapi bidangnya belum benar-benar disukai.

Ada lagi satu ukuran yang ia tetapkan sebagai standar cita-citanya: Ikigai. Konsep yang sedang atau sudah ramai akhir-akhir ini di kalangan pekerja milenial. Ya, remaja ini bukan pekerja, tetapi masuk arus milenial juga, bukan? Ikigai, yang dimaknakan sebagai nilai kebahagiaan hidup bagi orang Jepang, sesungguhnya bukan istilah yang baru muncul pada abad ini, melainkan sejak abad 10. Bagi kita di Indonesia saat ini, rata-rata orang lebih mengenal kata “passion” yang lebih dulu populer, dibandingkan kata “ikigai”.

Ia katakan bahwa jurusan kuliah yang akan dipilihnya tahun depan itu harus sesuai dengan Ikigai-nya, yakni merupakan bidang yang menjadi kekuatan dirinya, ia sukai, kelak dibayar karena keahliannya ini, dan dunia membutuhkan profesi ini. Luar biasa, ya, remaja ini. Demikianlah ketika konsep yang luar biasa merasuk pada remaja, usia ketika idealisme baru tumbuh.

Permasalahannya, ia bingung karena belum menemukan ikigai-nya, kendati sudah mencoba cara-cara metodis untuk mengenali keempat elemen ikigai tersebut.

Barangkali terdengar wow, bahwa anak jaman now memikirkan kriteria cita-cita seperti ini. Akan tetapi, sebenarnya kebutuhan remaja untuk mencari jati diri bukanlah hal baru. Sudah sejak dahulu kala. Ketika lepas dari status anak-anak, lalu pikiran mulai terbuka melihat banyak figur dan kemungkinan masa depan, remaja penasaran tentang siapa dirinya. Kita mengalaminya, bukan? (pertanyaan buat yang sudah melewati masa remaja)

Ketika istilah Ikigai belum dikenal, bentuk kegelisahan remaja adalah bertanya-tanya ke diri sendiri atau orang dewasa, dan mencoba-coba, sampai bertemu yang pas dengan dirinya. Pas atau tidak jurusan studi dan profesinya, tidak berarti kegelisahan usai. Pada usia berapa saja, manusia punya kegelisahannya sendiri perihal jati dirinya.

Tidak setiap orang cocok dengan rumusan dan panduan untuk menemukan panggilan hidupnya. Ada yang bisa memantapkan diri sambil trial-error sepanjang hidupnya. Tak ada yang salah dengan itu. Hanya orang-orang yang mengukur untung rugi yang biasanya menyesali. Mereka yang menghargai dan menikmati proses, biasanya bersukacita dalam setiap jatuh bangunnya.

Kembali pada Ikigai, yang rasanya bukan suatu resep sekali jadi dan langsung ketemu hasilnya, maka rasa-rasanya penerapan Ikigai adalah dengan berproses juga. Ada yang menemukan jawabannya pada usia muda, ada yang mungkin pada usia paruh baya. Sejatinya, tak perlu dikhawatirkan, meskipun mencemaskan masa depan dan jati diri pun boleh-boleh saja. Selamat datang ke fase dewasa, wahai remaja! 😉