
Dunia sedang dipenuhi ketakutan dan kecemasan massal yang dibawa oleh virus. Lantaran penularan penyakit ini cepat, banyak orang menjadi khawatir, apabila diri dan orang terkasih menjadi orang yang potensial terjangkit dan menjangkiti orang lain.
Begitu juga dengan seorang wanita paruh baya, pensiunan, dan memiliki putri seorang pekerja lapangan. Begitu himbauan #dirumahaja ramai dibicarakan, sang putri tetap harus bekerja di luar rumah, bergiliran dengan rekan-rekan kerjanya. Tentu tidak mudah bagi sang ibu untuk menerima dan berdamai dengan kondisi yang terberi ini.
Dua minggu sejak pemberlakuan #dirumahaja, sang putri ternyata menunjukkan gejala sakit seperti flu, batuk tidak berdahak, tekanan darah rendah, dan demam selama satu hari. Tentu saja ini menjadi pemicu stress pada sang ibu.
Pada situasi pandemi, sumber konflik yang muncul tampaknya lebih merupakan konflik bawaan yang belum terselesaikan sebelum pandemi ini. Katakan, apabila sebelumnya relasi ibu anak dipenuhi dengan asumsi, maka di situasi pandemi, asumsi ini menjadi-jadi.
Sang ibu berasumsi bahwa sang putri tidak meminum obatnya, tidak mengikuti sarannya untuk berkumur dengan air hangat, mual lantaran terpapar AC di mobil, atau tidak menjaga jarak dengan saudaranya. Sungguh asumsi tidak bermata. Kenyataannya? Sudah ia minum obat-obatan dari dokter, sudah berkumur, mual karena mabuk perjalanan mobil, dan sudah menjaga jarak di rumah.
Kenyataan dan asumsi yang tidak bertemu. Keduanya mengendap di kepala masing-masing. Perlahan mewujud ketidaksukaan, memengaruhi emosi marah, dan bersikap subjektif.
Mungkin pandemi yang hadir pada mereka bisa dimaknakan sebagai pembelajaran cara konkrit untuk mencapai kedamaian. Komunikasi, tidak pernah menjadi hal yang mudah, tetapi sangat perlu diupayakan. Tantangan utamanya adalah untuk meredam ego dan gengsi diri sambil memperlebar telinga dan hati untuk mau tahu sudut pandang orang lain.