
Menjadi orang yang oportunis barangkali menyenangkan. Ya, bukankah hidupnya hanya untuk kesenangannya semata, kalau tidak mendapat untung, ya menghindari kerugian? Dunia yang berputar di kepalanya lebih lantang bersuara soal untung, rugi, dan di antaranya meski samar-samar. Melihat peluang, menjadi bunglon, tidak harus terlalu melekat pada prinsip-prinsip, apalagi janji-janji. Sekalipun menjadi oportunis itu tidak selalu buruk, tapi memang perlu diakui bahwa sebagaimana sifat lainnya, ada kalanya hal tersebut tidak menyenangkan. Setara dengan menjadi altruis itu kadang melelahkan, atau menjadi individualis itu kadang kesepian, dsb. Nyatanya menjadi orang yang menyebalkan, sungguh menyebalkan, kalau saja kita mau tahu.
Akui saja.
Sebagai pribadi yang oportunis, kalau bisa mendapat kesempatan tidak dicela, kesempatan itu yang dicari -apalagi, tidak mudah juga untuk menerima kesalahan diri dan terpola untuk mendapat pemakluman dari orang. Pada akhirnya lebih memilih untuk bergelantung pada kaki orang lain yang perkasa atau bersembunyi di balik sinar cemerlang. Menjadi orang-orang yang selalu berlindung dan tidak begitu percaya diri.
Lalu, dari mana kita bisa tahu, apakah kita menyebalkan atau tidak? Dari umpan balik orang lain, yang perlu diterima dan diolah dengan tepat, baik olah pikir dan olah rasa. Ini idealnya. Kondisi ideal yang sungguh berat untuk dituju, tapi sangat mungkin untuk diupayakan.
Buat saya, umpan balik akan menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan. Perasaan tidak menyenangkan itu ternyata awal dari hal yang tidak menyenangkan atas diri, yang lebih besar lagi. Perasaan yang baik adanya. Tandanya, prinsip-prinsip yang biasanya bersayap itu sedang bergelut, mempertanyakan adakah prinsip diri yang mengakar? Karena prinsip bersayap yang bisa hinggap di mana-mana itu sungguh bisa menyakiti orang, apalagi yang sudah berharap pada kita. Ya, kali ini, saya menjadi pasangan yang menyebalkan dan mengecewakan, untuk kesekian kali.
Tidak mudah untuk mengakuinya. Sungguh. Menyebalkan menjadi orang yang menyebalkan.
Lalu saya mencoba untuk beralasan bahwa setiap orang TIDAK HARUS SELALU baik. Menjadi oportunis atau yang lain, bukanlah kesalahan diri. Pahami bahwa psikologi manusia adalah dinamika antara bentukan lingkungan dan pemaknaan pribadi. Oleh karena itu, perkaya diri dengan dinamika menjadi manusia, lewat interaksi: melakukan kesalahan, berkonflik, bercermin, dan memperbaiki diri.
Catatan penulis: saya masih di tahap bercermin, dan itu menyebalkan.